Sarjana

Pak Susman mengajar matematika di SMP Negeri yang dipimpinnya. Ia seorang guru yang akan dikenang para muridnya seumur hidup. Sebab pada suatu hari ia bertanya: “Untuk apa kamu belajar matematika?” Adapun yang ditanyainya adalah murid-murid kelas satu yang kedinginan oleh angin. Tapi pak kepala sekolah itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun seperti bergumam, ketika ia menyelesaikan sendiri pertanyaan yang ia lontarkan tadi: “Kamu semua belajar matematika bukan untuk jadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yakni teratur.”

Lalu dengan antusiasme mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Yang menakjubkan bukan saja ia dapat menjelaskan proses berpikir logis itu dengan gamblang di hadapan sejumlah bocah kedinginan yang berumur 13 tahun. Yang juga mengagumkan ialah bahwa ia, seorang kepala sekolah yang tak dikenal, di sebuah SMP bergedung buruk, dalam sebuah kota P yang tidak penting, ternyata bisa menanamkan sesuatu yang sangat dalam. Yakni: apa sebenarnya tujuan pendidikan sekolah.

Pak Susman meninggal kira-kira 10 tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, dan bertemu dengan seorang bekas muridnya yang lintang-pukang dan tunggang-langgang menyiapkan diri untuk ujian SNMPTN, barangkali ia juga akan bertanya: “Untuk apa semua itu?”

Ada sebuah sandiwara di televisi beberapa waktu lalu. Seorang ayah menanyai ketiga anaknya, dengan pertanyaan yang sama: “Apa cita-citamu Nak? Apa tujuanmu sekolah?” Anak yang pertama menjawab: “Saya ingin jadi pemilik toko roti yang akan saya beri nama Omar Bakery.” Yang kedua menyahut “Saya ingin menjadi ustadz Ahlus Sunnah wal Jama’ah” Yang ketiga berkata: “Saya ingin jadi sarjana.”

Jawaban yang pertama adalah spesifik, jelas dan terperinci. Jawaban yang kedua juga tak memerlukan tanda tanya baru. Tapi jawaban “Saya ingin jadi sarjana” terasa belum selesai. Diucapkan dalam bahasa Indonesia masa kini, kata “sarjana” adalah sebuah pengertian yang melayang-layang. Kita tak bisa menyamakannya dengan scholar atau scientist. Arti “sarjana” yang lazim kini tak lebih dan tak bukan hanyalah “lulusan perguruan tinggi”. Maka jika Anda masuk sebuah perguruan tinggi, karena bercita-cita menjadi “sarjana”, itu samalah kira-kira jika Anda melangkah, karena ingin berjalan. Sudah semestinya.

Kekaburan itu terjadi agaknya bukan cuma karena kacaunya pengertian “sarjana”. Tetapi juga karena sejumlah persepsi. Persepsi yang terpokok adalah persepsi tentang pendidikan sekolah serta tujuannya. Sudah tentu salah bahwa tujuan bersekolah di universitas adalah untuk mendapatkan gelar. Tapi tak kurang salahnya untuk mengira bahwa di universitas orang akan menemukan pusat ilmu, ataupun puncak pendidikan ketrampilan.

Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur hidup”. Dan dalam proses itu, universitas adalah sepotong kecil. Seorang magister dan seorang doktor, barulah mengambil bekal untuk perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai – juga belum selesai bodohnya.

Karena itu seandainya hari ini Pak Susman masih hidup, ia mungkin akan berkata : “Kamu masuk universitas, itu supaya bisa terlatih berpikir ilmiah. Itu saja, kalau dapat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: