Sokrates

Ia adalah seorang mahasiswa dengan baju longgar yang mungkin ketinggalan zaman. Ia tidak merokok dan tidak naik Honda. Ia bersepeda. Hampir setiap hari dikayuhnya sepeda itu dengan sepatu yang aneh di ujung kakinya yang kurus, tapi ia sendiri bukan mahasiswa yang aneh. Kecuali bahwa ia bersepeda. Kecuali bahwa ia tidak banyak bicara. Dan kecuali bahwa ia bernama Sokrates.

“Sokrates?” tanya petugas pendaftaran mahasiswa baru dengan heran, ketika ia menyebutkan namanya tiga tahun yang lalu. Sokrates mengangguk, dengan harapan bahwa keheranan itu secara resmi akan selesai. Tapi ia tahu bahwa petugas pendaftaran itu masih menyimpan calon ketawanya di perut. Ia maklum, dan juga maklum bahwa bapaknya menyukai nama-nama besar dari sejarah dunia yang sebenarnya tidak dikuasainya betul.

Maka ia berkata: “What’s in a name? Adik saya bernama Aristoteles.” Tapi sebenarnya ada juga arti nama itu bagi saudara tua Aristoteles yang kelahiran Pekanbaru ini. Sejak kecil ia tahu bahwa Sokrates adalah nama bapak filsafat di Yunani kuno. Sejak dulu ia tahu bahwa Sokrates dihukum mati karena dianggap terlalu sering menodong para pemuda dengan pertanyaan sehingga para pemuda itu berpikir. Dan rupanya berpikir serta bertanya bagi masyarakat tertentu dianggap berbahaya dari segi hankamnas, atau bagi keimanan.

Mungkin itulah sebabnya dia menjadi tak banyak omong. Meskipun tak banyak teman dan dosennya yang menyukai sikap diam Sokrates setelah melontarkan sederet pertanyaan yang bagi orang lain kedengaran justru seperti pameran kecerdasan yang pura-pura. Tapi ia telah memasang sebuah poster besar di kamar kostnya, berbunyi: MALU BERTANYA SESAT DI JALAN. Dan di hari-hari ini ia merasa kesepian karena tak seorang pun mengacuhkan pertanyaannya. Kawan-kawannya sekuliah sedang ramai mendemo pemerintah yang akan menaikkan tarif dasar listrik. Ia memilih memutar video yang sedang ia gemari: Brother Man Ana? Dengan kata lain: juga sebuah pertanyaan.

Maka hanya teman wanitanya yang masih telaten. “Apa pertanyaanmu kali ini Sokrates?”, begitu tanyanya.

“Banyak, banyak sekali,” jawaban Sokrates. “Tapi tak seorang pun mau mendengarkan.”

“Aku mau mendengarkan,” kata teman wanitanya lagi.

“Hebat. Tapi apakah kau tahan? Sebab aku akan bertanya tentang masa depan tanah air ini. Aku akan bertanya manakah yang harus kita pilih lebih dulu: pulihnya hak-hak asasi manusia di sini, atau terjadinya pemerataan pendapatan, atau lahirnya pemerintah yang bersih. Atau bisakah ketiganya terjadi secara simultan?”

“Ah, itu semuanya abstrak, Sokrates.”

“Baiklah. Tapi misalkan kau memilih pemerataan pendapatan. Ukuran apa yang bisa dipakai untuk menilai pemerataan? Siapa yang memiliki wewenang ilmiah menentukan ukuran itu? Dari mana wewenang ilmiah itu diperolehnya? Bagaimana hak asasi orang lain untuk tidak tunduk pada ukuran itu? Perlukah hak tertentu ditiadakan untuk mengurangi peluang hidup yang tak merata?”

Teman wanitanya diam. “Hmm…” Sokrates memang rumit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: