Phi

Pagi itu Sophie berdiri di depan kelas dan menulis angka kesukaannya pada papan tulis: 1,618. Kemudian ia berpaling menghadap ke para mahasiswanya yang bersemangat. “Siapa yang dapat mengatakan pada saya, ini nomor apa?”

Dari baris belakang seorang pemuda berkaki panjang mengangkat tangannya, “Itu angka phi”. Dia melafalnya fi.

“Bagus, Sokrates” ujar Sophie. “Semuanya, kenalkan ini phi.”

“Angka phi ini, ” Sophie melanjutkan, “adalah angka yang sangat penting dalam seni. Siapa yang dapat mengatakan mengapa?”

Sokrates mengangkat tangannya lagi, “Karena angka itu cantik.” Semua orang pun tertawa.

“Sebenarnya,” kata Sophie, “Sokrates benar. phi adalah angka tercantik di dunia ini.” Tawa itu langsung berhenti, dan Sokrates pun merasa pongah. Sophie kemudian menjelaskan bahwa phi diperoleh dari deret Fibonacci berikut:

1-1-2-3-5-8-13-21-34-55-89-144-233-377-610-987-1597-2584…

Karakteristik deret ini adalah setiap angka terdiri atas jumlah dua angka sebelumnya. Jika satu angka dalam deret tersebut dibagi dengan angka sebelumnya, maka diperoleh jumlah yang sangat dekat satu sama lain. Bahkan setelah urutan ke-12 dalam seri, proporsi ini adalah tetap. 233/144 = 377/233 = 610/377 = 987/610 = 1597/987 = 2584/1597 = 1,618 phi!

“Terlepas dari asal matematis phi yang tampak mistis,” Sophie menjelaskan, “aspek menggelitik akal sesungguhnya adalah perannya sebagai dasar dari balok bangunan dalam alam. Tumbuhan, hewan dan bahkan manusia memiliki sifat dimensional yang melekat dengan keakuratan pada rasio phi banding 1. Keberadaan phi yang tersebar di alam membuat ilmuwan terdahulu menganggap bahwa angka phi pastilah telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta alam ini. Seniman Renaissance menyebarluaskan 1,618 banding 1 sebagai Proporsi Agung, Divine Proportion.”

“Tunggu dulu,” kata seorang gadis dari barisan depan. “Saya jurusan Biologi di SMA dan saya tidak pernah melihat Proporsi Agung dalam alam.”

“Tidak?” Sophie tersenyum. “Pernah belajar hubungan antara betina dan jantan dalam komunitas lebah madu?”

“Tentu, lebah betina selalu berjumlah lebih banyak daripada lebah jantan.”

“Benar. Dan tahukah jika kamu membagi jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang lebah di dunia ini, kamu akan mendapatkan hasil yang sama?”

“Benar?”

“Ya, phi.”

Gadis itu terkesiap, “Tidak mungkin!”

“Mungkin saja!” Sophie balas berteriak sambil tersenyum mematikan lampu dan menampilkan slide kerang laut spiral. “Kenal ini?”

“Itu sebuah Nautilus,” kata gadis jurusan Biologi lagi.

“Benar. Dan dapatkah kamu menebak berapa rasio setiap diameter spiral ke spiral berikutnya?”

Gadis itu tampak tak yakin ketika melihat lengkung-lengkung konsentris dari kerang Nautilus itu.

Sophie mengangguk. “Phi. Proporsi Agung 1,618 banding 1.”

Gadis itu tampak tercengang. Sophie melanjutkan dengan slide berikutnya, sebuah tampak dekat dari sebuah kepala biji bunga matahari. “Biji bunga matahari tumbuh melawan arah spiral. Kamu dapat menebak rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikutnya?”

“Phi?” semua berkata.

“Tepat sekali.” Sophie kemudian memperlihatkan slide bunga cemara berspiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga. Semuanya memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan.

“Ya,” seorang mahasiswa berkata, “tapi apa hubungannya dengan seni?”

“Aha!” kata Sophie. “Senang kamu bertanya begitu.” Dia menampilkan slide gambar seorang lelaki di dalam sebuah lingkaran, The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci yang terkenal.

Vitruvian-Man

“Tak seorang pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci tentang proporsi agung dalam tubuh manusia. Dialah orang pertama yang memperlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari bagian-bagian yang rasio proporsionalnya selalu sama dengan phi.”

Semua yang berada di kelas itu menatapnya ragu.

“Kalian tidak percaya?” Sophie menantang. “Lain kali jika kalian mau mandi, bawa pita meteran dan kalkulator. Cobalah ukur jarak dari puncak kepalamu ke lantai. Kemudian bagi dengan jarak dari pusar ke lantai. Tebak, angka berapa yang kamu dapat?”

“Ya, phi!” Sophie menjawab sendiri pertanyaannya. “Mau contoh lain? Ukur jarak dari bahu ke ujung jarimu, kemudian bagi dengan jarak dari siku ke ujung jarimu. Phi lagi. Yang lain? Paha ke lantai, dibagi dengan lutut ke lantai. Phi lagi. Ruas jari. Jemari kaki. Divisi tulang belakang. Phi phi phi. Saudara-saudara, masing-masing kalian merupakan penghormatan berjalan terhadap Proporsi Agung.”

Bahkan dalam kegelapan, Sophie dapat melihat semuanya tercengang. Dia merasakan kehangatan yang sudah biasa di dalamnya. Mungkin karena itu dia suka mengajar.

4 responses to this post.

  1. Sungguh menakjubkan…

    Reply

  2. Posted by tian on March 14, 2016 at 12:51 pm

    Kalau dalam novel The da Vinci Code, bukan Sophie yang berbicara, tetapi Langdon……

    Reply

  3. Posted by dzikra aulia amri on March 14, 2016 at 4:17 pm

    ass…
    ada yang lebih menakjubkan lagi bapak….
    yaitu :
    jarak makkah ke kutub utara= 7631,68
    jarak makkah ke kutub selatan=12348,32
    jika dibagi =1,6180343

    jarak makkah dari timur dan jarak makkah dari barat jika dibagi juga=1,6180
    jika dibagi diagonal posisi kakbah juga menghasilkan nilai=1,618

    itulah alasan Allah SWT melokasikan kakbah di makkah
    sumber youtube: https://www.youtube.com/watch?v=hbV0wx9uvyg

    Reply

  4. Posted by Jamaluddin husein on March 14, 2016 at 7:58 pm

    Tak disangka , hasilnya adalah bilangan phi 1,68

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: