For Your Eyes Only

Sahabat sejati adalah sahabat di waktu senang dan susah. A friend in need is a friend indeed. Rayhan dan Muaz sangat memahami hal ini. Mereka berkenalan dengan Fahri melalui milis Rantau.net. Adalah kebiasaan Fahri menulis pengalamannya di milis tersebut dan kebetulan dibaca oleh Rayhan dan Muaz. Mereka tertarik mengikuti jejak Fahri dan akhirnya keduanya mendapatkan beasiswa dari Ausaid di Sydney.

Ketika Fahri mengetahui hal tersebut, dengan semangat ia langsung menawarkan tempat tinggalnya kepada Rayhan dan Muaz. Kebetulan dua orang housemate Fahri telah menyelesaikan kuliah. Keduanya berasal dari Malaysia bernama Zulkifli dan Shahriman. Zulkifli kembali ke Johor Baru sedangkan Shahriman kembali ke Kuala Lumpur. Demikianlah Fahri, Rayhan dan Muaz bertemu pertama kali di bandara Sydney dan mereka segera menjadi teman akrab seolah telah lama berkenalan.

Hari masih pagi, matahari belum terasa menyengat. Fahri dkk telah bersiap berangkat untuk berlebaran ke rumah ustadz Bakhtiar. Mereka hanya sarapan dengan sereal secukupnya dan minum kopi Kapal Api yang dibeli di sebuah minimarket di Lakemba. Terbayang nanti di rumah ustadz Bakhtiar sudah tersedia sarapan yang tidak pernah mereka rasakan di rumah kost. Kali ini mereka tidak naik train tetapi naik mobil titipan salah seorang mahasiswa Indonesia yang pulang mudik ke Jakarta. Di antara mereka bertiga, hanya Fahri yang memiliki Australian driving license, meskipun masih kategori P. Sedangkan Rayhan dan Muaz hanya memiliki SIM A dari tanah air.

Fahri mengemudikan mobil dengan santai sambil mendengarkan kedua temannya yang ngobrol tentang siapa lagi kalau bukan Aisha. Ketika ditanya tentang Aisha, Fahri menceritakan pengalamannya diperkenalkan oleh ustadz Bakhtiar waktu lebaran tahun lalu. Fahri hanya dapat melihat kedua matanya karena wajahnya tertutup oleh cadar hitam. Sebagaimana Ummu Rashad, Aisha kuliah di fakultas kedokteran dan sudah memasuki tahun ketiga. Artinya tahun ini dia boleh jadi selesai dan kerja praktek tidak tetap di rumah sakit.

Tiba-tiba Rayhan bertanya, “Kira-kira tinggian mana Aisha sama saya Mas Fahri?”

“Hmmm..”, Fahri melihat ke arah Rayhan. “Tinggian dia kemana-mana Han,” jawab Fahri sekenanya.

Fahri merasa kasihan melihat ekspresi wajah Rayhan. Kemudian ia menambahkan, “Tapi kalau yang datang melamar itu laki-laki yang sholeh, maka tidak ada alasan bagi orangtuanya untuk menolaknya”. Kata-kata Fahri kembali membuat Rayhan semangat.

Tidak sampai setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah ustadz Bakhtiar. Rumah itu terlihat sepi. Jangan-jangan tuan rumah masih tidur. Mereka bertiga tetap duduk di dalam mobil tidak tahu apa yang akan dilakukan hingga tiba-tiba pintu rumah terbuka dan tampak Khalifah keluar berlari ke arah mobil yang mereka kendarai. Ternyata mereka telah ditunggu. Sambil menggendong Khalifah, Fahri berjalan bersama Rayhan dan Muaz masuk ke rumah putih yang bertetangga dengan mesjid Ali bin Abi Thalib itu. Sungguh mereka tidak pernah menyangka apa yang akan menanti mereka di dalam. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: