Sebulan Kemudian

Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa Ramadhan sudah berlalu dan memasuki hari kedua bulan Syawwal. Kerinduan hati pastilah melanda setiap perantau muslim yang berasal dari Indonesia di Australia. Rindu bertemu keluarga dan handai taulan. Rindu suasana lebaran yang  ramai dan ceria dengan anak-anak bermain dan kue-kue lebaran. Betapa sunyinya lebaran di Australia. Tak ada istilah lebaran hari kedua atau suasana lebaran selama sepekan. Di sini lebaran hanya sehari dengan segelintir orang terus kembali ke rutinitas kerja atau kuliah yang membosankan.

Tak hanya itu yang dirasakan oleh Fahri. Ia bersyukur sekali karena telah menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh dan menuntaskan hafalan al-Qur’an juz 27 hingga i’tikaf selama sepuluh malam terakhir di mesjid al Hijrah. Sejak pertemuan terakhir dengan Maria di shelter bus, ia menyibukkan dirinya dengan bermacam aktivitas yang membuatnya lupa dengan kegalauan hatinya. Satu hal lagi yang disyukurinya adalah sejak saat itu Maria tak pernah menghubunginya lagi.

Tapi entah mengapa di pagi hari kedua bulan Syawwal ini hatinya merasa rindu pada Maria. Apakah ini bisikan syaitan yang terlepas belenggunya atau hawa nafsunya sendiri? Dalam hati Fahri berkata, inilah akibat tidak konsisten dengan niatnya tadi malam untuk mulai puasa Syawal di hari kedua. Hanya karena tidak terbangun makan sahur, ia dengan begitu mudah menunda niatnya untuk puasa Syawwal.

Sekarang ia tak memiliki perisai pelindung dari rasa rindu yang begitu menyiksa. Ditatapnya handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya. Benda itu seperti memanggil-manggil dirinya untuk menelpon Maria, paling tidak meninggalkan pesan singkat iedul fitri. Apalah salahnya cuma mengirim sms iedul fitri?

Dalam keadaan bimbang Fahri beranjak mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat. Jika puasa adalah perisai maka shalat adalah senjata penolong bagi orang Islam. Fahri berharap shalatnya dapat membunuh rasa rindu di  hatinya. Dalam sujud terakhir berulang kali ia berdoa, “Ya Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik wa thaa’atik…”

Itulah do’a yang senantiasa dibacanya untuk menenangkan hati. Hati manusia itu sesungguhnya berada di ujung jemari Allah, dan Dia-lah yang membolak-balikkannya. Jika manusia tulus meminta kepada Allah, niscaya permintaan itu akan dikabulkanNya. Begitu selesai shalat Fahri tidak merasa ragu lagi. Ia takkan mengirim sms apalagi menelpon Maria. Bukankah masih banyak wanita lain yang lebih salihah, cantik dan cerdas. Hari ini ia sudah berjanji dengan housemate-nya untuk berlebaran ke rumah Ustadz Bakhtiar. (Bersambung)


2 responses to this post.

  1. Aslm pak
    Keren pak cerita fahri sama marianya. .
    Karangan sendiri y pak?
    Ditunggu kelanjutannya. .

    Reply

    • Posted by abdill01 on May 16, 2012 at 5:37 pm

      tentu saja novel karangan sendiri… kelanjutannya tidak tau kapan karena tak ada lagi yang memberi komentar atau berminat membacanya😦

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: