Penyesalan

Fahri menatap lurus ke depan, kedua matanya menyipit dan bibirnya terkatup rapat. Kedua cuping telinganya bergerak-gerak. Maria maklum itu pertanda Fahri sedang berpikir keras. Bertahun-tahun menjadi sahabatnya, Maria telah terlatih membaca wajah Fahri. Waktu berjalan dengan lambat, dengan sabar Maria menunggu apa yang akan dikatakan Fahri. Ia tahu Fahri akan mengatakan sesuatu yang tak tertahankan dan  tak tertanggungkan.

For me, you are my favorite friend.” Itulah kesimpulan yang paling simpul. Ia tak dapat menemukan kata lain untuk mengungkapkan perasaannya pada Maria.

That’s it?” tanya Maria setelah Fahri diam beberapa saat. “That’s it!” Fahri mengangguk mantap. Dalam hatinya menggerutu mengapa ia tak pernah mempersiapkan apa yang akan diucapkan jika Maria menanyakan hal tersebut. Tapi bagaimana mungkin ia mempersiapkannya jika ia tak pernah menduga Maria akan menanyakannya?

Keadaan menjadi diam. Maria berharap Fahri lebih terbuka. Ia tak pernah bisa membuat Fahri mengucapkan bagaimana perasaan terhadap dirinya. Fahri memang seorang pria yang tak banyak bicara, tapi yang diucapkan lewat ekspresinya jauh lebih artikulatif daripada kata-kata.

If I’m your favorite friend, then why did you leave me and treat me like someone you don’t care about? Maria benar-benar menginginkan kebenaran dan sebuah kejelasan.

Here we go…” Fahri berkata dalam hati, ia teringat kembali pada masa tiga tahun silam ketika mereka masih kuliah dan sedang melakukan penelitian tugas akhir di Alexandria. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu hingga kemarin sore di dalam kereta listrik.

Fahri berpikir mungkin ini waktunya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun ia harus siap dengan segala konsekuensinya. “I’m sorry if that’s how you feel about me. Awright, I will explain…

Setelah menghela nafas panjang akhirnya Fahri berkata, “Do you remember when we met at the lab? Since then, I just couldn’t get you out of my mind. I saw your face before me as I laid on my bed. I kinda got to thinking of all the things you said. I kept talking to myself that you were only my illusion. But it hurt me so much that I decided to avoid you.”

Fahri jadi heran sendiri mengapa ia sanggup mengucapkan kata-kata tersebut dengan fasih. Agaknya ia terlalu banyak mendengar lagu baladanya Wet Wet Wet. Di sisi lain Maria tertegun, baru kali ini ia mendengar curahan hati Fahri. Tapi tetap saja tak ada pengakuan bahwa Fahri telah jatuh cinta padanya.

Setengah berbisik Maria bertanya lagi, “Did  you fall in love with me?

Fahri tak tahan didesak terus oleh Maria, dengan sedikit kesal ia berkata, “If a confession satisfies you, yes! I’ve been in love with you.

Maria masih belum puas. Bukankah jawaban itu berarti Fahri sekarang tidak mencintainya lagi? Belum sempat ia berpikir jauh, Fahri telah mendahuluinya. “What about you Maria, do you have a boyfriend? Fahri mengambil kesempatan untuk menanyakan hal yang ingin diketahuinya.

Do you really wanna know?” Maria tidak langsung menjawab, raut wajahnya terlihat sangat serius.

Yes, please.” Fahri tercekat melihat perubahan pada raut wajah Maria.

I’m engaged to somebody.” Maria berkata pelan tapi membuat Fahri tersentak untuk kesekian kalinya. Apakah ia tak salah mendengar apa yang dikatakan Maria?

Are you serious? Then we should’nt be here together. How would your fiance feel about if knowing that you go out with me?” Fahri masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Hatinya remuk redam sehingga hampir ia tak dapat menguasai kemudi mobil yang dikendarainya. Tapi salah dirinya sendiri, mengapa dulu ia tak berani mengungkapkan perasaannya ketika kesempatan terbuka lebar? Mengapa penyesalan selalu datang terlambat? (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: