Joyride

Fahri berjalan duluan ke arah parkir mobil dipandu oleh Maria dari belakang. Kebiasaan yang tidak biasa karena mereka tak pernah berjalan beriringan meskipun menuju arah yang sama. Satu-satunya mobil di tempat parkir adalah sedan porsche carrera convertible berwarna merah metalik. Fahri menghentikan langkahnya, ia merasa dikerjai.

Maria segera menyusul Fahri, “Sorry I forgot my car is under repair. That’s my aunt’s car, though you could drive it if you like”. Maria memandang Fahri dengan pandangan memelas. Fahri bimbang, ia percaya pada Maria tapi juga takut berdekatan di sebelahnya. Ah, kecebur sekalian saja pikirnya liar.

Well, in this emergency case I’ll take the risk.” Fahri sedikit menyesal telah menerima tawaran Maria. Dalam hatinya ia merasa dag dig dug karena belum pernah menyetir mobil sport apalagi dengan posisi duduk yang begitu dekat dengan Maria. Untungnya mobil ini menggunakan gear manual.

Mobil sport itu perlahan bergerak keluar kampus. Fahri berusaha mengemudi dengan tenang. Ia hanya mengetahui rute yang biasa dilewatinya kalau naik bus. Convertible adalah mobil sport yang atapnya otomatis bisa dilipat ke belakang sehingga penumpangnya kena AC, Angin Cuma-cuma. Dalam perjalanan ia sempat melihat beberapa mahasiswi Indonesia yang berjalan berombongan. Ia sepertinya mengenal salah seorang dari mereka.

Maria maklum Fahri merasa risih terlihat berduaan dengannya. Ia kembali menekan tuas untuk memasang kap mobil dan menghidupkan AC. Untuk mengisi keheningan Maria menyetel CD musik gitar klasik yang selalu berada di mobilnya. Suasana sore hari itu mendadak berubah menjadi romantis. Fahri merasa canggung, ia tak biasa dengan suasana seperti itu.

It’s a …” Fahri dan Maria berbicara hampir bersamaan. Maria mengalah, “You first.” Fahri tak mau kalah, “Nope, ladies first.

Maria menghela nafas panjang. “Fahri, hal ‘indikal mar’ah?” tercekat Maria bertanya dalam bahasa arab fusha yang dulu biasa mereka gunakan di Alexandria.

Fahri tersentak dengan pertanyaan Maria, tapi ia cepat menguasai dirinya. Dengan tenang ia menjawab, “Maa fi.

Then, where am I in your universe?” Maria tak memberi Fahri kesempatan mengambil nafas. Kali ini ia tak berbahasa Arab lagi.

Do you really wanna know?” Fahri tidak langsung menjawab, ia hanya melirik membuat Maria penasaran.

Yes, please.” Maria menjawab datar. Sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini sejak mereka pertama bertemu di kereta api, tapi ia belum mendapatkan waktu yang pas. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: