Insomnia

Maria baru saja selesai shalat subuh di kamar ketika HPnya menjerit pertanda sms masuk. Tapi ia tetap tenang berdzikir di atas sajadah. Dzikir asbahna setelah shalat subuh baginya jauh lebih penting daripada pesan sms. Dzikir asbahna hanyalah istilah Maria untuk dzikir pagi, sedangkan untuk dzikir sore ia beri nama dzikir amsaina.

Sekitar 25 menit Maria menyelesaikan dzikirnya. Ia ingin tidur dulu sebelum berangkat ke kampus. Ketika mau menset alarm di HP-nya, ia baru ingat kalau tadi ada sms yang masuk. Hmmm, ternyata sms dari Fahri.

Thanks a lot for waking me up, IOU. Fahri.

Maria tersenyum, ia segera membalas sms tesebut. You owe me nothing. It was not intended to wake you up. I was just wondering whether we can meet today.

Tak sampai semenit, HP-nya kembali menjerit. Fahri membalas pesannya: I’ve got somethin to do in Kensington this afternoon. If your campus is the one in Kensington, we can meet there.

Yes, Maria membalas lagi: OK, campus library ba’da ashr.

Adalah kebiasaan Maria mencampur bahasa Inggrisnya dengan bahasa Arab. Ba’da ashr maksudnya adalah setelah shalat ashar. Maria langsung meletakkan HP-nya dan merebahkan badan. Ia mengantuk sekali karena semalaman tak bisa tidur, insomnia. Sejak bertemu Fahri, ia tak bisa berhenti memikirkannya. Terasa menyiksa tapi juga nikmat. Love is a sweet torment, cinta memang sengsara yang membawa nikmat.

Ingatannya melompat ke bulan Ramadhan ketika i’tikaf di mesjid kampus di Alexandria beberapa tahun yang lampau. Ia terbangun di sepertiga malam dan berniat akan qiyamullail. Sayup-sayup ia mendengar seseorang membaca al-Quran di tempat i’tikaf laki-laki. Entah mengapa ia sangat menikmati bacaan al-Quran yang didengarnya itu. Penasaran ketika mengambil wudhu, ia mengintip dari jendela mesjid. Ia surprais sekali ketika mengetahui bahwa orang itu adalah Fahri yang sedang shalat malam. Ia jadi simpati kepada kakak seniornya yang cuek dan pendiam tapi juga senang menghafal al-Quran.

Baginya Fahri adalah orang yang paling acuh yang dikenalnya. Walaupun ia telah mencoba mengungkapkan perasaannya, tapi Fahri selalu mengalihkan pembicaraan. Hanya pernah ketika melihat Fahri memakai sebuah cincin emas, ia langsung mengingatkan bahwa haram hukumnya memakai emas bagi laki-laki. Ketika itu Fahri langsung membuka dan memberikan cincin itu kepadanya.

Yang paling menyakitkan adalah ketika Fahri menghindar darinya. Fahri bahkan mengatakan hubungan mereka hanya sebagai teman. Setelah semua yang mereka lalui bersama, bagaimana Fahri bisa mengatakan mereka hanya berteman? Adakah Fahri telah pindah ke lain hati? Atau mungkin Fahri telah dijodohkan orangtuanya? Atau jangan-jangan Fahri terkena sihir hingga menjauhinya? Ah.. Maria tak pernah mendapat jawaban yang pasti.

Walaupun penampilan Fahri sekarang beda, lebih padat berisi dengan kumis dan janggut yang dicukur rapi, tapi pancaran matanya masih sama. Maria tak mampu lama melihat ke matanya. Jika bukan karena tahi lalat di pipi kiri Fahri, mungkin Maria tak mengenalinya ketika di atas kereta. Terakhir kali yang diingatnya Fahri berkata, “Calm down Maria. If we are meant to be, we will meet again.” Kalau jodoh tak kan kemana. Dulu Maria menganggap kata-kata itu sebagai sebuah penolakan. Tapi sejak mereka bertemu lagi kata-kata itu justru memberikan harapan. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: