Undangan Buka Puasa

Malam hari di musim panas cuacanya seperti siang hari di musim semi. Udaranya sejuk dan anginnya bertiup sepoi-sepoi. Ustadz Bachtiar berjalan di depan bersama Rayhan. Mereka terdengar sedang berbicara serius tentang bisnis. Selain seorang ulama, Ustadz Bachtiar juga seorang wirausahawan yang sukses. Sementara Fahri berjalan di belakang bersama Muaz, seorang pelajar Indonesia dari Bukittinggi. Muaz alumni IAIN Imam Bonjol yang baru kuliah tahun pertama di Western Sydney. Fahri dan Muaz tinggal di apartemen yang sama di daerah Tempe (baca Tempi).

Ketika sampai di depan rumah Ustadz Bachtiar, Fahri melihat banyak sepatu dan sandal wanita di luar pintu samping. Ternyata di dalam rumah sudah ada tamu lain. Ustadz Bachtiar mengajak tamunya masuk lewat pintu depan. Fahri maklum di rumah ini ada batas antara daerah laki-laki dan wanita. Ia disongsong oleh Khalifah yang langsung minta digendong. Khalifah sangat dekat dengan Fahri, mungkin karena mereka sama-sama punya dua unyeng-unyeng di kepala.

Di atas meja tamu sudah terhidang es buah dan kolak pisang. Fahri teringat ketika bulan puasa di Pekanbaru, setiap sore di perempatan jalan banyak orang menjual es buah dan kolak pisang. Ini tidak mengherankan karena Ummu Rashad pernah lama di Pekanbaru ketika isu rasis merebak di Australia. Dalam waktu singkat es buah dan kolak pisang itu langsung habis. Sekarang waktunya duduk manis menunggu hidangan selanjutnya.

Fahri dan kawan-kawan sungguh dimanjakan oleh tuan rumah. Hidangan yang datang adalah makanan khas Turki, seperti shish kebab dan doner kebab dengan alinazik, sac kavurma, tandir dan beberapa macam kofte. Juga ada asure, sejenis puding dari gandum serta baklava, kue kering khas Turki yang rasa dan bentuknya manis. Semua hidangan benar-benar menggoda iman. Untungnya tadi mereka sudah shalat maghrib di mesjid.

Fahri tidak malu-malu lagi di rumah Ustadz Bachtiar. Ia yakin makanan di sini halal dan berkah. Hanya saja di mesjid tadi ia sudah minum dua gelas, sekarang ia harus ke toilet. Ustadz Bachtiar memberi tanda ke belakang. Fahri pun berjalan menuju toilet pria, bahkan toilet di rumah ini khusus. Tak sengaja ia hampir tabrakan dengan seorang wanita yang baru keluar dari toilet. Wanita itu tidak bercadar, mungkin baru berwudhu. Dari wajahnya menunjukkan ia bukan orang Aussie, juga bukan orang melayu. “I’m sorry…” wanita itu menunduk dan tergesa berjalan ke ruangan khusus wanita. Fahri tertegun, ia yakin pernah bertemu wanita itu tapi tak ingat dimana. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: