Tempat Kos

Kereta perlahan berhenti di stasiun Sydenham. Fahri dan kawan-kawan turun dan menunggu kereta menuju Tempe. Stasiun Tempe adalah stasiun pertama dari Sydenham ke arah Eastern suburbs. Tidak jauh dari stasiun ini ada sebuah mesjid yang berbentuk aneh, tidak seperti mesjid. Apartemen tempat kos Fahri dkk hanya berjarak sekitar 2,5 menit berjalan kaki dari mesjid Tempe.

Mesjid yang dikenal dengan nama Mesjid Al Hijrah ini adalah satu-satunya mesjid di Sydney yang mengadakan ceramah Ramadhan dalam bahasa Indonesia. Mesjid ini dulunya adalah gereja yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah mesjid pada tahun 1991, dengan merubah bagian dalamnya. Bagian yang tadinya mimbar untuk khotbah gereja dijadikan kantor, sedangkan mimbar dan tempat salat imam dipindah ke bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat.

Hari ini Fahri mengalami peristiwa yang menyesakkan dada: bertemu lagi dengan Maria. Hampir tiga tahun ia menenangkan dan menata hati untuk melupakan Maria. Sekarang semua kenangan yang telah dilupakannya itu muncul kembali. Meskipun sekarang ia merasa lebih dewasa, tapi hal itu belum teruji benar. Ia juga merasakan perubahan pada diri Maria. Cadar itu menunjukkan kesadaran diri bahwa kecantikan dapat mempengaruhi laki-laki yang memandangnya. Terselip rasa simpati dalam dirinya akan perubahan diri Maria sekarang. Fahri mulai berharap pertemuannya kembali dengan Maria akan berakhir bahagia.

Mungkin itu juga mengapa ia memberikan nomor HPnya. Di satu sisi ia sedikit khawatir apabila nanti akan mengganggu konsentrasi kuliahnya. Di sisi lain ia juga tidak mau melewatkan kesempatan kedua yang sangat jarang terjadi. Ia tidak tahu apakah harus bersyukur atau bersabar menghadapi ujian kali ini. Semuanya terjadi begitu cepat, ia memerlukan waktu untuk mencerna satu per satu apa yang telah dialaminya hari ini. Sebentar lagi azan isya, tidak ada waktu untuk istirahat sekarang.

Sebelum azan isya, Fahri sudah berjalan ke mesjid. Ia bertemu dengan rombongan pelajar Indonesia dari Auburn dan Kensington. Mesjid Tempe memang akrab di kalangan pelajar muslim Indonesia. Sekali sepekan ada penceramah dari tanah air yang diundang. Suasana di sini tidak ada bedanya seperti di Indonesia. Sama seperti hari pertama, mesjid penuh sesak hingga ada yang tidak kebagian tempat. Untuk sementara Fahri dapat melupakan pertemuannya dengan Maria.

Usai shalat tarawih Fahri langsung kembali ke apartemen. Dalam fikirannya cuma satu: istirahat. Begitu masuk kamar Fahri langsung menyalakan komputer. Linux Ubuntu Muslim Edition-nya memiliki zekr project yang berisikan murattal dari beberapa qari ternama di dunia. Favoritnya adalah Sheikh Saad Said Al Ghamidi, imam mesjid Tamam di Madinah. Ia kemudian memilih surat Ar Ra’d, surat ke-tigabelas.

Perlahan Fahri merebahkan badan dan menyetel alarm jam 2 pagi untuk qiyamullail. Bacaan Al Quran yang merdu dan tartil kembali merasuki relung hatinya. Tak terasa air mata mengalir ketika bacaan Sheikh Al Ghamidi memasuki ayat ke-28. “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: