Sydney Tiga Tahun Kemudian

Sydney di musim summer identik dengan matahari terik dan udara panas. Mesjid Surrey Hill merupakan salah satu tempat favorit mahasiswa muslim yang kuliah di kota ini. Selain lokasinya yang tak jauh dari stasiun Central, juga karena tempatnya yang sejuk dengan pepohonan filicium yang rindang di depannya.

Fahri baru saja selesai shalat ashar. Hari ini ia telah mengumpulkan salah satu assignment Object Oriented Programming yang deadline-nya jam 7 sore. Ya, jam 7 pm di musim summer memang masih sore dan panas. Hari ini adalah hari pertama bulan Ramadhan, istirahat menunggu waktu maghrib adalah sebuah tawaran yang sangat menggoda. Apalagi jalan-jalan sore di pusat kota adalah sebuah fitnah, banyak gadis-gadis berpakaian minim yang lalu-lalang.

Tapi itu semua tidak menyurutkan niat Fahri untuk pergi menemui guru mengajinya di Lakemba. Ia bertekad menyelesaikan hafalan juz-27 nya dalam bulan Ramadhan tahun ini. Dalam waktu 10 menit Fahri telah sampai di stasiun Central. Ia langsung membeli tiket return dan menunggu kereta listrik yang menuju ke Bankstown.

Sambil duduk mengantuk menunggu kereta datang, Fahri mengulang surat ar-Rahmaan yang telah dihafalnya tadi malam. Tersentak ia oleh pengumuman kareta yang ditunggunya segera datang. Sore itu kereta agak sepi. Fahri masuk dan duduk di tempat yang tidak jauh dari pintu keluar. Masih dalam keadaan mengantuk, Fahri melanjutkan hafalan yang tadi terputus.

Fahri kembali tersentak bangun. Seorang wanita berjilbab dan bercadar hitam yang baru naik di stasiun Canterbury, duduk tidak jauh di sebelah kirinya. Wanita itulah yang berseru membangunkan tidur sorenya: “Fahri, is that you?”

Fahri menoleh dan refleks menggeser posisinya agak menjauh dari wanita itu. “Yes, I’m Fahri. Do I know you?”

“Don’t you recognise me, Fahri?” jawab wanita itu balik bertanya dengan antusias sekali.

Ces, darah Fahri berdesir untuk kedua kalinya, yang pertama terjadi di Alexandria. Jantungnya berdetak tidak karuan, ia mengenali suara itu. Ia seolah melihat hantu di depannya. Pemilik sepasang mata bola itu adalah wanita yang pernah mentraktir dirinya makan siang sekitar tiga tahun yang lalu. Wanita itu juga yang telah menghantui dirinya dalam tiga tahun terakhir. Fahri mencubit tangannya, terasa sakit. Ia tidak sedang bermimpi.

“Maria, is that really you?” Fahri tidak menyangka dan tidak berharap akan bertemu lagi dengan Maria. Dalam hatinya ia berkata: “Ya Allah, kuatkanlah diri hambaMu yang lemah ini. Ini adalah cobaan yang besar”.

“What a coincidence! I just saw you in my dream. What brings you to Sydney?” Fahri meneruskan ucapannya.

“I was about to ask you the same question, but first please tell me about your dream” Maria sekali lagi tidak menjawab pertanyaan Fahri, malah mendesak balik bertanya. Fahri menyesal telah menceritakan bahwa ia bermimpi melihat Maria. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: