Main Hati

Perbincangan terhenti dan keadaan berdiam diri tiba-tiba menguasai keadaan. Baik Fahri maupun Maria sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian terdengar suara pengumuman: “Next station is Lakemba. Stand clear, door closing.”

Fahri langsung teringat dengan Ustad Bachtiar, guru mengajinya di Lakemba. Ustadz Bachtiar adalah seorang ulama berasal dari Bugis. Ia merantau ke Sydney sebagai anak buah kapal dan menikah dengan putri seorang dokter asal Turki bernama Armand Mochtar. Ia memiliki tiga orang anak laki-laki yang lucu-lucu. Fahri senang sekali bermain-main dengan Khalifah, putra beliau yang berusia 3 tahun.

Ummu Rashad, istri Ustadz Bachtiar, adalah seorang wanita yang ramah. Sebenarnya ia adalah seorang dokter, tetapi belum memiliki izin praktek. Ummu Rashad memiliki seorang kakak perempuan bernama Annisa dan seorang adik perempuan yang bernama Aisha. Mereka selalu memakai cadar dan jilbab yang rapat.

Fahri sebenarnya masih ingin bersama Maria. Sebuah kerinduan, halal atau tidak, tetaplah sebuah kerinduan. Tak bisa dipungkiri, ia telah bermain dengan hatinya. Tapi ia harus konsisten dengan niatnya semula: menyetorkan hafalan surat ar-Rahmaan kepada Ustadz Bachtiar di mesjid Lakemba. No pain no gain, begitulah semboyan hidupnya.

“Maria, I wish I could stay with you a little bit longer. But I’ve gotta get off at the next station. This is my mobile number, just in case.” Fahri memberikan secarik kartu nama yang baru dibuatnya. Tak disangka bahwa orang pertama yang diberikannya adalah Maria.

Maria melihat dengan cermat kartu tersebut, tertulis di sana: Fahri Abdullah, Web Programmer, Aldebaran Corp berikut alamat kantor dan nomor HP. Maria pun memberikan kartu namanya kepada Fahri. Di sana tertulis: Maria Boutros, alamat rumah dan nomor HP.

Kereta perlahan berhenti. Sambil melangkah keluar Fahri tersenyum dan berucap, “ma’assalaamah.” Maria menyahut dan tersenyum, “ilalliqa’…” Untung saja Maria memakai cadar, sehingga Fahri tak sempat melihatnya tersenyum. Jika ada yang sulit dilupakan Fahri dari Maria pastilah senyumnya itu. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: