Lakemba

Mesjid Lakemba, dikenal juga sebagai mesjid Ali bin Abi Talib, merupakan salah satu mesjid terbesar di Australia. Mesjid yang didirikan tahun 1977 ini berada di wilayah mayoritas warga keturunan timur tengah. Di sini dengan mudah ditemukan restoran yang menyediakan makanan halal, juga ada restoran Padang yang berlokasi di Haldon street. Dari lebih 350 ribu warga muslim di Australia, sekitar 10 ribu di antaranya adalah warga keturunan Indonesia.

Ada banyak pelajar muslim Indonesia yang menyewa apartemen di Lakemba. Sebagian mereka sudah menikah dan memboyong keluarganya ke sini. Malah ada yang menikah dengan sesama pelajar. Jika sudah begini maka beasiswa mereka pun terputus dan harus bekerja sambil kuliah. Ada anekdot di sini: jika orang Jawa sampai di tempat baru langsung mencari arah mata angin, maka orang Padang langsung mencari restoran Padang dan toilet terdekat. Sedangkan sebagai orang yang beriman, tentu saja mencari arah kiblat dan mesjid terdekat.

Fahri berjalan sendirian ke arah mesjid Lakemba. Ustadz Bachtiar tinggal tidak jauh dari mesjid. Beliau tinggal di sebuah rumah milik mertuanya dan menjadi permanen residen karena menikah dengan warga negara Australia. Fahri pernah sekali diperkenalkan dengan keluarga beliau ketika lebaran tahun lalu. Ia respek sekali dengan kehidupan mereka yang taat menjalankan syariat Islam.

Begitu memasuki mesjid langsung terasa udara sejuk dari pendingin ruangan. Rasa penat hilang seketika. Ustadz Bachtiar sudah berada di mesjid sedang menyimak hafalan Rayhan, seorang pelajar Indonesia dari Pekanbaru. Biasanya Fahri lebih duluan datang. Setelah shalat tahiyyatul mesjid Fahri menunggu giliran menyetorkan hafalannya.

Fahri kemudian menyalami tangan gurunya: “Assalaamu’alaikum Ustadz, afwan saya agak terlambat hari ini.” Ustadz Bachtiar tersenyum. “Tidak apa, masih puasa kan?” tanya Ustadz Bachtiar. “Alhamdulillah, masih Ustadz,” jawab Fahri mantap. “Baik, kalau begitu silakan mulai baca hafalannya.” Fahri pun mulai membaca surat ar-Rahmaan dan Ustadz Bachtiar mendengarkan dengan seksama hingga akhir ayat.

Setelah Fahri selesai, Ustad Bachtiar menyampaikan undangan ifthar di rumahnya ba’da shalat maghrib di mesjid. Rayhan dan Muaz yang datang belakangan juga diundang. Rezki memang terkadang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Beruntung Fahri selalu membawa pakaian cadangan dan perlengkapan mandi di dalam tas ranselnya. Setengah jam menjelang azan maghrib, sudah waktunya untuk mandi di toilet mesjid dan bersiap menyambut dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa.

Azan maghrib berkumandang. ‘Ashir mangga yang segar pun membasahi kerongkongan yang kering. Tak ada yang lebih nikmat daripada tegukan yang pertama. Kurma rutab yang lembut dan manis menemani prosesi pembatalan puasa hari pertama di mesjid Lakemba. Tanpa shalat sunnah qabliyah, imam langsung berdiri di depan memimpin shalat maghrib berjamaah. Bacaan imam yang merdu dan tartil menambah ketenangan di dalam hati, menumbuhkan semangat jihad melawan hawa nafsu yang menjadi musuh terbesar di bulan puasa. Sungguh kenikmatan yang tak dapat didustakan. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: