Aisha

Fahri berjalan bertiga ke stasiun Lakemba. Ia hanya diam mendengarkan kedua temannya yang seru membahas tentang makanan khas Turki yang mungkin baru pertama kali mereka rasakan. Pembahasan tidak hanya soal makanan tetapi juga siapa yang membuatnya. Fahri baru tahu ternyata bukan dibuat oleh Ummu Rashad, tetapi adik perempuannya.

Secara bercanda Muaz berkata, “Seandainya istriku nanti pandai memasak seperti itu, mungkin badanku bisa gemuk dan sehat.” Rayhan menimpali, “Az, orang seperti kamu ini biar makannya banyak tapi tak bakalan gemuk. Mending kamu cari istri yang matanya bagus.”

Kamu memang matre Han, yang bagus maksudmu mata pencahariannya kan?” Muaz membalas. Rayhan hanya tertawa, tidak menolak juga mengiyakan.

Tapi Az, kamu tahu gak siapa nama adiknya Ummu Rashad?” Rayhan mencoba mengganti topik pembicaraan. “Gak tau, siapa namanya?” Muaz menunggu jawaban dengan sabar.

Namanya… ah, aku lupa namanya siapa…” Rayhan berusaha mengingat-ingat tapi tak berhasil. “Ah, bilang saja tidak tahu!” Muaz menggerutu.

Namanya Aisha.” Tiba-tiba Fahri berbicara, pelan tetapi mengejutkan kedua temannya.

Mas Fahri kok tahu?” tanya Rayhan dan Muaz hampir bersamaan.

Aku cuma tahu namanya dari Ustadz, tapi belum pernah lihat wajahnya.” Jawaban Fahri sedikit menghibur kedua temannya itu.

Orangnya pasti pintar dan cantik.” Rayhan tidak dapat menahan rasa sok tahunya. Muaz langsung menimpali, “Belum tentu Han, yang jelas pintar masak, tapi belum tentu cantik.

Hey sudah, ini bulan Ramadhan, lebih baik kalian zikr yang banyak.” Fahri mulai tidak tahan mendengar obrolan kedua temannya.

Astaghfirullah, benar Mas Fahri. Ini malam kedua Ramadhan, nanti giliranku masak buat makan sahur.” Muaz cepat menanggapi.

Fahri diam, tapi fikirannya masih pada wanita yang tak sengaja ditemuinya di rumah Ustadz Bachtiar. Mungkinkah itu Aisha? Ces, darah Fahri tiba-tiba berdesir untuk kesekian kalinya. Ia ingat sekarang: wanita itu mirip sekali dengan gadis berkerudung biru yang dilihatnya dalam mimpi di kereta tadi sore. Apa gerangan arti mimpinya itu? Kepada siapa ia harus menceritakan mimpinya? Yang pasti tidak kepada Ustadz Bachtiar. (Bersambung)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: