Ujian

Ujian dalam istilah sehari-hari sering diartikan sebagai proses yang harus dilalui seseorang sebelum naik kelas. Dalam ranah akademis, ujian sering disamakan dengan istilah evaluasi. Banyak ahli yang telah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ujian.

Di antaranya Orthen dan Sanders, penulis buku  Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines, mendefinisikan evaluasi adalah proses penilaian terhadap kualitas, efektifitas, proses, hasil, tujuan, atau kurikulum. Sedangkan Asep Jihad dan Abdul Haris, penulis buku Evaluasi Pembelajaran, berpendapat bahwa evaluasi belajar merupakan sebuah penilaian untuk melihat kemajuan hasil belajar siswa, dalam rangka mengukur tingkat penguasaan mereka terhadap proses belajar dalam periode tertentu.

Dengan demikian evaluasi belajar harus bertitik tolak pada apa yang telah dipelajari melalui interaksi peserta didik dengan gurunya selama batas waktu yang telah ditentukan. Bila mengacu pada pandangan Benjamin S. Bloom, yang idenya dipakai oleh kurikulum 2013, evaluasi belajar itu setidaknya meliputi tiga ranah: yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi pada ketiga ranah ini ditujukan untuk melihat apakah terjadi penambahan muatan pengetahuan, perubahan sikap atau tingkah laku, serta keterampilan siswa dalam menguasai dan mengimplementasikan pengetahuannya.

Oemar Hamalik, penulis buku Kurikulum dan Pembelajaran, memberi pengertian yang lebih luas. Menurutnya, perlu dibedakan antara evaluasi (penilaian) dan measurement (pengukuran). Pengukuran adalah upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran bermaksud menentukan luas, dimensi, banyaknya, derajat atau kesanggupan suatu hal atau benda. Tugas pengukuran berhenti pada mengetahui ”berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa” tanpa memperhatikan arti dan penafsiran mengenai banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan penilaian adalah serangkaian program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman yang diperoleh dari proses pendidikan. Dengan kata lain, penilaian adalah upaya untuk memantau sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar dan pembelajaran.

Bagaimana jika siswa yang menghadapi ujian melakukan kecurangan? Meskipun kecurangan itu lolos dari pengawasan, namun yang rugi sebenarnya adalah siswa itu sendiri. Pertama, ia telah berbuat maksiat (dosa) karena melakukan kebohongan. Hal ini akan menimbulkan perasaan bersalah dan kegalauan hati yang hanya bisa dihilangkan dengan istighfar dan mengakui kecurangan tersebut kepada sang guru. Kedua, ia tidak akan mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Dan yang ketiga, dapat dipastikan ia tidak akan lulus dalam ujian selanjutnya yang memiliki keterkaitan.

Pohon kejujuran itu pahit, tapi buahnya manis. Ilmu yang bermanfaat hanya akan diperoleh jika Anda memintanya kepada Allah dan mempelajarinya dengan niat yang ikhlas dan kejujuran dalam menghadapi ujiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: