Tanda Ikhlas

Ikhwani fiddin wa akhawati fillah, telah kita ketahui bersama bahwa syarat diterimanya amal adalah ittiba’ dan ikhlas. Ittiba’ artinya melaksanakan amal seperti yang dicontohkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ikhlas artinya ditujukan semata untuk mencari keridhaan Allah. Kedua syarat itu tentunya mesti mengiringi setiap amal yang kita lakukan agar kita layak memperoleh surga Allah nanti di yaumil akhir.

Berbicara tentang ikhlas ada tiga tanda keikhlasan yang perlu kita ketahui. Pertama, memiliki perasaan sama bila dipuji atau dicela. Tidak bangga atau gembira ketika dipuji dan tidak jengkel atau marah ketika dicela.

Kedua, tidak merasa berjasa atau berprestasi dengan amalnya. “Karena sayalah Islam semerbak di kecamatan ini, dan sayalah yang pertama merintis pembinaan di kampus itu”, adalah contoh ketidakikhlasan.

Ketiga, mengharapkan pahala amal itu di akhirat, tidak di dunia. …in ajriya illa ‘alalladzii fatharani… sesungguhnya upahku adalah dari (Allah) yang menciptakan aku.” (QS 11:51)

Keinginan untuk senantiasa ikhlas tidak boleh menjadi penghalang untuk menjadi takut beramal. Ulama memberikan batasan: meninggalkan amal karena takut riya, karena takut dilihat orang kemudian tidak mau beramal, itu juga riya. Artinya janganlah karena takut riya kemudian kita enggan beramal. Semestinya terus perbanyak amal tanpa peduli dilihat atau tidak dilihat orang namun berusahalah untuk tidak terjatuh pada riya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: