Supermoon

Sabtu besok, 19 Maret 2011, bulan akan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Jarak bulan dari bumi hanya sekitar 356.790 kilometer (bandingkan dengan diameter bumi yang 12.756 kilometer). Fenomena mendekatnya bulan ke bumi itu disebut lunar perigee, tapi lebih populer dengan istilah supermoon (mungkin karena mirip Superman atau Sailormoon).  Hal ini akan membuat bulan terlihat lebih besar dari biasanya.

Di sejumlah media terkemuka internasional, isu supermoon kini mengemuka. Apalagi, fenomena itu dikait-kaitkan dengan ancaman sejumlah bencana seperti gelombang pasang, letusan gunung berapi, bahkan gempa bumi. Benarkah supermoon akan membawa bencana bagi bumi?

“Kabar menghebohkan itu tidak ilmiah, ada bumbu-bumbunya. Supermoon tidak berarti bencana,” kata astronom Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin. Posisi bulan mendekati bumi, tambahnya, hanya akan berpengaruh pada efek pasang surut. “Rata-rata maksimal tergantung kondisi pantainya.” Dijelaskan Thomas, fenomena supermoon bukanlah hal yang istimewa. “Itu hanya posisi reguler. Orbit benda langit memang ada di jarak terdekat (perigee) dan terjauh (apogee).”

Namun, Thomas juga mengakui fenomena yang akan terjadi seminggu lagi itu tak biasa. “Istimewanya, kebetulan waktunya dekat dengan bulan purnama,” kata Thomas. Dijelaskan pada 19 Maret, fenomena lunar perigee yang memiliki siklus sekitar 27,3 hari terjadi bersamaan dengan bulan purnama yang muncul tiap 29 hari. Selama terjadi lunar perigee dan purnama, permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama.

Pendapat Thomas senada dengan para astronom lainnya. Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy juga membantah anggapan bahwa supermoon bakal membawa bencana. “Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus,” kata dia seperti dimuat News.com.au, Jumat, 4 Maret 2011. “Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan.” Saat itu bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dari biasanya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” tambah Wheeler.

Sementara itu, pakar bumi dan planet dari Adelaide University, Dr. Victor Gostin punya pendapat agak berbeda. Dia mengatakan, selama ini prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet tidak pernah akurat sepenuhnya. Namun, menurut dia dimungkinkan ada suatu korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan kondisi bulan. “Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan bumi akibat gravitasi bulan bisa memicu gempa bumi.”

maksimum. “Fenomena Supermoon yang dikabar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: