Ancaman Pornografi

Selain narkoba, ancaman terdahsyat bagi anak-anak saat ini adalah pornografi. Bahkan pornografi berdampak buruk lebih dahsyat daripada narkoba. Jika narkoba bisa merusak tiga bagian otak, maka pornografi bisa merusak sekaligus lima bagian otak.

Belasan situs dan games porno saat ini terus mengancam anak-anak yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Misalnya Naruto dan Grand Theft Auto (GTA) games berjudul San Andreas, Vice City serta Bully. GTA yang berisi rencana besar untuk mencuri mobil, awalnya adalah upaya pemerintah AS memberikan inspirasi bagi para tentaranya. Namun belakangan lebih banyak berisi adegan-adegan porno.

‘’Sekarang angka pengguna games dan situs porno di kalangan anak-anak meningkat hingga 1.360 persen. Ini luar biasa mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian, games tersebut paling sering dimainkan oleh anak-anak mulai usia empat tahun hingga usia remaja,’‘ ujar Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, dalam seminar Memahami Dasyatnya Keru sakan Otak Akibat Pornografi dan Narkoba Ditinjau dari Neuroscience.

Menurut Elly, umumnya anak-anak mengakses situs porno tersebut di rumah, baik di rumah sendiri maupun di rumah temannya. Ironisnya, dari penelitian yang dilakukan di 28 provinsi, sebagian besar orang tua menyatakan tidak tahu bahwa games dan situs tersebut mengandung unsur pornografi.

Dari hasil pertemuan konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa SD kelas 4 hingga 6 di Jabodetabek sepanjang 2008, diketahui bahwa 66 persen dari mereka sudah pernah melihat hal-hal berbau pornografi. Sekitar 24 persen melalui komik, 18 persen melalui games, 16 persen melalui situs porno, 14 persen melalui film, 10 persen VCD dan DVD, 8 persen melalui HP, dan empat hingga enam persen melalui majalah atau koran.

Mengapa anak-anak ingin melihat adegan pornografi? Sekitar 27 persen mengaku iseng setelah menyelesaikan tugas pekerjaan rumah. Lalu, 10 persen terbawa teman dan empat persen takut dibilang kurang pergaulan. Sedang lokasinya, 36 persen anak melihat pornografi di rumah atau kamar pribadi, 12 persen di rumah teman, 18 persen di warnet, dan tiga persen di tempat rental. Melihat begitu tingginya akses anak-anak terhadap media pornografi, dimaklumi jika sekarang banyak anak-anak yang sudah melakukan kegiatan seks aktif pada usia remaja. Rangsangan yang berulang kali terjadi membuat anak mudah tergoda melakukannya.

Survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar selama tahun 2007 diperoleh fakta bahwa 97 persen remaja pernah nonton film porno, 93,7 pernah ciuman, petting dan oral seks, 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan serta 21,2 persen remaja SMU pernah aborsi. Sekjen Kementrian Kesehatan (Depkes) Sjafi’i Ahmad menyatakan, informasi tentang pornografi akan mengubah pola perilaku seseorang sesuai dengan informasi yang diterimanya.

Selain itu, ternyata informasi tentang pornografi yang didengar atau dilihat seseorang, juga dapat merusak sel-sel otak. Akibatnya, perilaku dan kemampuan intelegensia akan mengalami gangguan. Otak sebagai organ yang me ngolah informasi, kata Sjafi’i, menerima apa yang bisa dilihat, didengar dari lingkungan, selanjutnya memproses informasi itu sesuai dengan kapasitas kemampuan intelegensia yang dimiliki seseorang. Tingkat pendidikan, pengetahuan, dan lingkungan akan membentuk pola perilaku seseorang.

Kerusakan otak dapat dibuktikan dengan kerusakan fisik dan radiologis serta tampak dalam bentuk manifestasi gangguan perilaku. Jika gangguan ini meluas dalam kelompok masyarakat, dapat dibayangkan akibat besar yang bisa ditimbulkan. Yang pasti ini akan memperburuk kemampuan kesehatan fisik, mental, sosial, dan menghancurkan sendi tatanan kehidupan masyarakat disertai penurunan kemampuan intelegensia secara umum.

Penurunan kesehatan intelegensia secara langsung dan tidak langsung, kata Sjafi’i, akan menurunkan produktivitas sehingga secara menyeluruh akan memperburuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang pada saat ini belum sesuai dengan harapan.

Sementara itu Kepala Pusat Intelegensia Kementrian Kesehatan, Jofizal Jannis menyatakan, bila anak-anak terus-menerus dipaksa menonton tayangan-tayangan yang berbau pornografi, maka yang terjadi adalah kecanduan yang bisa merusak intelegensia.  Tidak hanya itu, selain rusaknya daya intelegensia, remaja Indonesia juga tidak akan dapat berpikir jernih. Ini akan menimbulkan efek negatif baik fisik maupun mental mereka. Dan itu akan menurunkan kualitas hidup mereka kelak.

One response to this post.

  1. wahh, bahaya juga ya ternyata..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: