Dead Poets Society

dead-poet-society

Carpe Diem, Seize the Day! Raihlah kesempatan, jadikan hidupmu luar biasa, karena manusia akan mati dan waktu terus berjalan tak pernah berhenti. Sudahkah kita melakukan yang harus kita lakukan? Apakah kita melakukannya dengan cara biasa-biasa layaknya kebanyakan? Atau kita melakukannya dengan cara kita sendiri?

 

Sering kita mendengar tentang buku yang kemudian diangkat menjadi film. Tapi tidak demikian halnya dengan buku ini. Buku yang saya pinjam dari Perpustakaan Syuman HS ini merupakan novel yang diangkat dari naskah film Dead Poet Society, karya N.H. Kleinbaum, namun penulisnya melakukan sedikit penyusaian yang diperlukan agar bisa memindahkan bahasa visual dalam film tersebut untuk diadaptasi dalam bahasa tulisan sehingga menjadi sebuah karya sastra yang layak dinikmati.

 

Adalah sebuah perjalanan mencari kesejatian dengan cara berbeda yang dijelang oleh tujuh siswa akademi Welton yang masih dalam masa pencarian jati diri. Jalan cerita mengalir lancar dan menarik Penggalan-penggalan puisi indah karya Thoreau, Whitman, Frost dan Shelley seolah mampu menghidupkan perasaan yang beku, menggugah dan menjadi nilai tambah novel ini.

 

Juga tentang seorang guru bijak yang mencoba mengajak siswa-siswanya untuk berpikir berbeda. Berbeda dalam arti positif, berbeda untuk sesuatu yang lebih baik, berbeda agar tidak tergerus oleh kerasnya zaman untuk kemudian mati begitu saja. Ia mengarahkan mereka untuk tidak memandang segala hal dari wujud fisiknya saja, tetapi lebih pada sesuatu yang dalam, yakni kemanusiaan.

 

Tak seorang pun pernah berpengalaman menjalani hidup, semua menjalaninya untuk yang pertama kalinya. Seperti mimpi yang teramat panjang, sukar untuk terbangun. Tapi ada satu cara untuk menyadari bahwa kita sedang hidup, bukan melulu bermimpi. Caranya, pakailah kata-kata. Manusia tanpa kata-kata, tanpa sistem bahasa, bisa berbuat apa? Bagaimana caranya merajut makna? Tak bisa.

Dead Poet Society telah memberikan gambaran jalinan antara kekuatan kata dengan permasalahan meraih hidup. Melalui kata-kata mereka belajar untuk membaca dirinya. Terdapat keterkaitan yang kuat antara diri dan membaca. Mereka akan melihat jalinan-jalinan tanda di dalam tulisan, yakni tanda-tanda yang merujuk pada pemahaman akan diri mereka. Mereka membaca, memahami untuk kemudian memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.

 

Aku ingin hidup penuh makna dan menghisap semua sumsum kehidupan

Untuk mengusir semua yang tidak hidup

Jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: