Kesedihan yang Semu

sieh Pamino,

diese tranen fliessen, trauter,

dir allein, dir allein …

 

Pamino lihatlah, airmata ini mengalir kekasihku. Untukmu seorang, untukmu seorang. Kalimat ini dikutip dari The Magic Flute, sebuah film sederhana yang dibuat dengan indahnya oleh Ingmar Bergman. Pada salah satu adegan, Pamina berjumpa dengan Pamino, kekasihnya yang dengan susah payah dinantikannya. Tapi Pamino membisu di hadapannya, dan gadis itu pun merasa sedih. Kesedihan itu bergaung dengan murni ketika ia mengungkapkannya dalam puisi pendek di atas.

Namun tak semua kesedihan adalah kesedihan. Di depan layar televisi, kita harus siap untuk merasa mual. Lagu-lagu cinta di layar itu seperti bolu warna-warni yang basi dan dikukus berkali-kali. Satu lagu dengan lagu lain sulit dibedakan. Tak ada yang sempat meninggalkan bekas. Lolong itu sudah seperti rutin. Dari melodi dan liriknya, tak ada rasa yang tulus yang melahirkan nyanyian murni. Perasaan itu adalah perasaan dari plastik.

Mungkin itulah soalnya. Kita tak lagi mendengar perasaan pribadi yang jujur. Yang kita dengar hanyalah pengulangan. Yang kita dengar adalah klise. Yang kita dengar bukanlah cetusan dari sebuah rasa haru yang sebenarnya, tapi sesuatu yang sudah dirumuskan, dipesan dan diharuskan oleh produser, penulis lagu dan sebagainya.

Bersalahkah kesedihan? Terkadang kita memang suka mencemooh rintihan cinta sebagai sentimentalis abg. Dalam sebuah versi novel Sam Pek Eng Tay, cerita melodramatik yang terkenal itu dibuat lucu dan membuat tertawa terbahak-bahak. Memang sikap putus asa Sam Pek ketika cintanya kepada Eng Tay ternyata patah, terasa kelewat bodoh, cengeng dan sia-sia. Tapi tentu saja ada yang bermakna dalam kisah kesetiaan yang tragis itu, sehingga ia dicintai oleh pelbagai generasi dan pelbagai bangsa.

Tapi Anda mungkin ingat lagu Sepasang Mata Bola. Saya pernah bertanya mengapa lagu ini tetap menyentuh hati. Seorang teman menjawab: karena lagu itu ditulis tanpa pretensi. Dalam ekspresi yang tanpa dipesan dari luar, nyanyian yang mengungkapkan perasaan pribadi bisa bergetar sekuat nyanyian revolusi. Memang, 60 tahun yang lalu ketika lagu itu diciptakan, orang benar-benar sedang berjuang. Bukannya sedang meyakin-yakinkan diri bahwa ia sedang berjuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: