Pendidikan Jahiliyah

Sesungguhnya pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah sukses. Kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Al Qur’an, 3:185)

Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan modern saat ini berbasis paradigma sukses materialisme. Semua yang dianggap sebagai sukses bersifat kuantitatif atau dikuantitatifkan. Anak sukses jika dapat gelar sarjana, anak sukses jika dapat kerja dengan gaji tinggi, rumah mewah, mobil mewah dan tolok ukur kebendaan lainnya. Berapa besar pemahamannya terhadap hidup, kedalaman imannya dan keindahan akhlaqnya tak perlu dipedulikan, selama nilai-nilai kebendaan belum terpenuhi. Benda dulu, baru yang lain. Sementara itu anak sholeh dianggap abstrak dan utopia. Anak pintar dan kaya sangat dihormati teman-temannya. Yang pintar dan kaya tapi kurang ajar masih diberikan tempat lebih baik daripada yang biasa-biasa namun berakhlaq mulia.

Tapi tahukah Anda paradigma mendasar tentang kesuksesan orang beriman itu melampaui batas hidup dan mati, melampaui batas dunia (rujukannya al-Quran 3:185). Ya, jika kita sudah sampai di ‘sana’, maka siapa lagi yang akan membantah kesuksesan kita? Ayah dan ibu barulah dapat merasa sukses tanpa ragu jika telah berhasil mengantarkan anaknya ke sana. Sepintas ini akan dianggap utopia/mimpi, sebab ‘hasil’nya tak dapat dilihat sekarang….betul 100%. Memang hasil pendidikan yang baik bukan untuk dilihat orang lain, namun untuk dinilai Allah SWT. Kapan kita tahu itu berhasil atau tidak? Ya nanti jika sudah di akhirat. Sebelum itu, tak ada orangtua maupun pendidik yang boleh merasa tenang dan puas dan menganggap dirinya telah berhasil.

Sebagai orangtua maupun guru harus selalu dalam keadaan waspada bahwa kita masih harus terus memperbaiki diri dan metode kita dalam memberikan pendidikan kepada anak. Paradigma sukses di QS 3:185 bukan hanya penting di akhirat dan di dunia kita tidak perlu mendapatkan apa-apa. Sebab di atas dunia ini kita juga harus mewujudkan kekuasaan Allah (sebagai khalifah Allah) dan kita ummat Islam harus merangkainya dalam amal-amal bermanfaat.

Persoalan lain dari sistem pendidikan jahiliyah modern adalah masalah proses belajar mengajar secara klasikal massal. Kelas menjadi ruang-ruang peng-generalisasi individu anak didik. Bekerja sama dengan sistem penilaian kuantitatif, penegakkan dinding ruang kelas telah menghilangkan kemampuan anak didik melihat dunia nyata. Simulasi persoalan yang disederhanakan agar dapat dibungkus dan dibawa ke ruang kelas telah menyebabkan ada jarak antara pengajaran teori dengan pemahaman realita. Khusus di Indonesia, sistem ujian yang sering mengandalkan pilihan ganda (multiple choice) telah memunculkan bisnis bimbel dengan sukses. Cara seperti ini telah dengan amat berhasil membungkus berbagai soal jawab dalam lingkup kurikulum yang melebar, seolah banyak dan memang banyak topiknya, namun dangkal pemahaman.

Persoalan cara penilaian sistem pendidikan jahiliyah adalah pengurangan nilai yang utuh menjadi nilai kuantitatif yang kosong makna. Rangking pertama di kelas yang mayoritas bodoh adalah anak terpandai di antara yang bodoh. Rangking terbawah di kelas unggulan adalah anak yang masih di atas rata-rata statistik. Angka hanya menampilkan skala yang kaku dari kemampuan anak, angka sangat dipengaruhi oleh situasi kondisi saat penilaian dengan angka tsb dilakukan (ujian atau ulangan). Apa yang dinilai merupakan sebagian kecil saja dari apa yang keseluruhan. Apakah yang dinilai tsb dapat mewakili kualitas sesungguhnya dari intelektualitas anak? Dengan mengurangi penilaian yang utuh tentang seorang anak menjadi sederet angka rapor, kualitas moral, kualitas pemahaman, kualitas interaksi sosial anak tak lagi dapat di’baca’.

Kesenjangan antara penilaian di ruang kelas dengan apresiasi lapangan pekerjaan merupakan bukti nyata problem ini. Sekian banyak angkatan kerja yang S1 tak terserap lapangan pekerjaan. Sementara ada saja yang non sarjana dapat melakukan sesuatu yang bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Apalagi jika kita coba menilai hasil pendidikan jahiliyah tsb dengan timbangan nilai moral agama. Berapa banyak para sarjana S1, 2, 3 bahkan profesor malah memberi contoh akhlaq buruk. Doktor yang melakukan plagiat, mengajak kepada dosa dan kemunkaran dsb. Itu semua merupakan cerita lama. Penilaian intelektualitas yang ada sama sekali tidak melibatkan aspek lain selain kemampuan berpikir di bidang tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: