Maryamah Karpov

Aku terkesiap. Ayah yang tak pernah mengatakan tidak untuk apa pun yang kuminta, Ayah yang mau memetikkan buah delima di bulan untukku telah mengatakan tidak, untuk sesuatu yang paling kuinginkan melebihi apa pun…

Masih menjadi misteri bagi saya mengapa buku keempat dari tetralogi laskar pelangi ini diberi judul Maryamah Karpov. Nama encik Maryamah hanya tertulis dua kali dan sama sekali tidak berperan penting dalam alur cerita. Saya menduga bahwa Hirata telah menyembunyikan sesuatu yang tak ingin ia bagi dalam novelnya tersebut. Bagi saya harusnya novel itu berjudul Njoo Xian Ling atau mungkin lebih tepat diberi judul Mencari Anak Perawan di Sarang Penyamun.

Terlepas dari kontroversi judulnya, harus saya akui novel ini kaya sekali dengan detil budaya melayu dan setting lokasinya. Novel ini juga menularkan semangat petualangan dan pantang penyerah yang mengingatkan pada tulisan Enid Blyton. Sulit menebak berapa banyak buku yang harus dibaca penulis untuk menulis novel ini dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk riset dan mengumpulkan semua detil pendukung cerita.

Tak seperti novel lain, saya tak menyediakan waktu khusus untuk membaca novel ini. Alih-alih saya membacanya seperti cerita bersambung, berhenti setiap selesai satu mozaik dan membiarkan diri penasaran ketika mengerjakan pekerjaan lain. Akhirnya setelah dua pekan saya selesai membacanya dan sebagai cerita non fiksi, saya percaya dengan kejujuran endingnya yang tidak happily ever after.

Cinta bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi pasti berbanding lurus dengan gila. Kalimat ini mengingatkan saya dengan kegilaan di masa lalu. Semua yang pernah jatuh cinta rasanya pasti setuju dengan kalimat tersebut. Tapi di mozaik yang lain saya sungguh kuciwa dengan kesimpulan yang diambil Ikal: … sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa dari seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan inilah aku telah dilahirkan.

Jika saya seorang Mahar, dengan gaya sok tahunya saya akan menasihati Ikal begini: Boi, kau ini terlalu mengagungkan cinta pada perempuanmu. Tidakkah kau mengetahui kisah orang-orang yang mengagungkan cinta? Tengoklah kisah Samson Delilah, Majnun Layla, Romeo Juliet, Sam Pek Eng Tay, Hamlet Ophelia… Tidakkah kau perhatikan semuanya memabukkan, menyesatkan dan berakhir menyedihkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: