Lismag Pekan ke-9: Medan dan Gaya Magnetik

Assalaamu’alaikum semuanya. UTS telah berlalu, insya Allah sebelum kuliah pekan depan solusinya akan dibahas di kelas. Jika materi kuliah dari pertemuan pertama sampai pekan lalu membahas tentang Listrik, maka mulai pekan depan materi kuliah Lismag adalah tentang Magnetika. Topik pekan depan adalah Medan, Gaya, dan Fluks Magnetik.

Ada banyak kemiripan antara Listrik dan Magnetika. Sebelum kuliah pekan depan saya harap kalian telah membaca materi bab 28 buku Young dan Freedman serta handoutnya. Jangan lupa membawa handout waktu kuliah pekan depan.

Jika kalian membaca postingan saya pekan lalu kalian pastinya telah mengetahui bahwa pembahasan lengkap soal-soal buku Young dan Freedman tersedia di Internet. Silakan di download dan dijadikan bahan belajar setelah kuliah pekan depan. Sedangkan handout materi kuliah dapat diunduh di tautan berikut ini:

Pertemuan 9 Medan magnetik dan Gaya Magnetik

Lismag Pekan ke-8: UTS

Assalaamu’alaikum mahasiswa dan mahasiswi yang akan menghadapi ujian tengah semester Lismag pekan depan. Semoga kalian sudah mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku referensi Young dan Freedman. Bagi yang tidak punya buku bisa membaca buku elektroniknya di tautan ini.

Jangan lupa UTS nanti tidak boleh membawa catatan dan HP. Yang perlu dibawa hanya alat tulis dan kalkulator. Yang ketahuan membawa contekan akan dikeluarkan (dengan tidak hormat) walaupun tidak memiliki kesempatan karena telah berniat untuk tidak jujur.

Kalau yang ini hanya untuk yang mau membaca blog saya, jangan diberitahukan kepada mahasiswa yang hanya mau fotokopi handout. Selamat belajar, semoga sukses!

Sarjana

Pak Susman mengajar matematika di SMP Negeri yang dipimpinnya. Ia seorang guru yang akan dikenang para muridnya seumur hidup. Sebab pada suatu hari ia bertanya: “Untuk apa kamu belajar matematika?” Adapun yang ditanyainya adalah murid-murid kelas satu yang kedinginan oleh angin. Tapi pak kepala sekolah itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun seperti bergumam, ketika ia menyelesaikan sendiri pertanyaan yang ia lontarkan tadi: “Kamu semua belajar matematika bukan untuk jadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yakni teratur.”

Lalu dengan antusiasme mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Yang menakjubkan bukan saja ia dapat menjelaskan proses berpikir logis itu dengan gamblang di hadapan sejumlah bocah kedinginan yang berumur 13 tahun. Yang juga mengagumkan ialah bahwa ia, seorang kepala sekolah yang tak dikenal, di sebuah SMP bergedung buruk, dalam sebuah kota P yang tidak penting, ternyata bisa menanamkan sesuatu yang sangat dalam. Yakni: apa sebenarnya tujuan pendidikan sekolah.

Pak Susman meninggal kira-kira 10 tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, dan bertemu dengan seorang bekas muridnya yang lintang-pukang dan tunggang-langgang menyiapkan diri untuk ujian SNMPTN, barangkali ia juga akan bertanya: “Untuk apa semua itu?”

Ada sebuah sandiwara di televisi beberapa waktu lalu. Seorang ayah menanyai ketiga anaknya, dengan pertanyaan yang sama: “Apa cita-citamu Nak? Apa tujuanmu sekolah?” Anak yang pertama menjawab: “Saya ingin jadi pemilik toko roti yang akan saya beri nama Omar Bakery.” Yang kedua menyahut “Saya ingin menjadi ustadz Ahlus Sunnah wal Jama’ah” Yang ketiga berkata: “Saya ingin jadi sarjana.”

Jawaban yang pertama adalah spesifik, jelas dan terperinci. Jawaban yang kedua juga tak memerlukan tanda tanya baru. Tapi jawaban “Saya ingin jadi sarjana” terasa belum selesai. Diucapkan dalam bahasa Indonesia masa kini, kata “sarjana” adalah sebuah pengertian yang melayang-layang. Kita tak bisa menyamakannya dengan scholar atau scientist. Arti “sarjana” yang lazim kini tak lebih dan tak bukan hanyalah “lulusan perguruan tinggi”. Maka jika Anda masuk sebuah perguruan tinggi, karena bercita-cita menjadi “sarjana”, itu samalah kira-kira jika Anda melangkah, karena ingin berjalan. Sudah semestinya.

Kekaburan itu terjadi agaknya bukan cuma karena kacaunya pengertian “sarjana”. Tetapi juga karena sejumlah persepsi. Persepsi yang terpokok adalah persepsi tentang pendidikan sekolah serta tujuannya. Sudah tentu salah bahwa tujuan bersekolah di universitas adalah untuk mendapatkan gelar. Tapi tak kurang salahnya untuk mengira bahwa di universitas orang akan menemukan pusat ilmu, ataupun puncak pendidikan ketrampilan.

Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur hidup”. Dan dalam proses itu, universitas adalah sepotong kecil. Seorang magister dan seorang doktor, barulah mengambil bekal untuk perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai – juga belum selesai bodohnya.

Karena itu seandainya hari ini Pak Susman masih hidup, ia mungkin akan berkata : “Kamu masuk universitas, itu supaya bisa terlatih berpikir ilmiah. Itu saja, kalau dapat.”

Lismag Pekan ke 7: Rangkaian Arus Searah

Assalaamu’alaikum mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil Lismag. Semoga kalian telah membaca bab 27 buku Young dan Freedman sebelum kuliah pekan depan. Judul materi kuliah pekan depan adalah Rangkaian Arus Searah. Jika pada pekan lalu kita mempelajari tentang kapasitansi ekuivalen, muatan dan potensial pada setiap kapasitor, maka pekan ini kita mempelajari tentang resistansi ekuivalen, arus dan potensial pada setiap resistor.

Setelah itu kalian akan mempelajari tentang Kaidah Kirchhoff. Kalian harus membaca dan mengerti strategi penyelesaian soal di halaman 263-264 khususnya penjelasan Gambar 27-6 dan 27-7.

Selanjutnya adalah bagaimana mengukur potensial, arus dan resistansi dengan galvanometer d’Arsonval.

Yang terakhir adalah jika sebuah kapasitor diberi muatan oleh sebuah aki yang dihubungkan seri dengan sebuah resistor, maka arus dan muatan kapasitor tidak konstan. Begitu juga ketika kapasitor mengosongkan muatan, arus dan muatan tidak konstan.

Catatan kuliah untuk pekan ini bisa didownload di tautan berikut:

Pertemuan 7 Rangkaian Arus Searah

Lismag Pekan ke 6: Arus, Hambatan dan TGE

Assalaamu’alaikum mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil Lismag. Semoga kalian telah membaca bab 26 buku Young dan Freedman sebelum kuliah besok. Judul materi kuliah pekan ini adalah Arus, Hambatan, dan Tegangan Gerak Elektrik. Jika pekan lalu kita mempelajari tentang potensial V, maka pekan ini kita mempelajari tentang arus I dan hambatan (resistansi) R dalam rangkaian listrik.

Arus listrik I adalah banyaknya muatan yang bergerak melalui luas tertentu per satuan waktu. Ketika muatan bergerak dalam sebuah rangkaian listrik, maka energi potensial listrik berpindah dari sumber tegangan ke rangkaian listrik tempat energi tersebut disimpan atau dikonversi ke dalam bentuk energi lain.

Resistansi R berasal dari resistivitas, yakni rasio medan listrik E dan kerapatan arus J. Hukum Ohm menyatakan bahwa resistivitas sebuah resistor adalah konstan. Kemudian kita akan membahas tentang persamaan yang terkenal itu, V = IR. Persamaan ini menyatakan bahwa potensial V pada sebuah resistor sebanding dengan arus I yang melalui resistor tersebut.

Yang terakhir adalah pembahasan tentang tegangan gerak elektrik (TGE) yang di buku Fisika SMA dikenal dengan istilah gaya gerak listrik (GGL). Sebuah rangkaian tertutup yang mengangkut arus yang kontinyu harus mengandung sebuah sumber TGE. Sebuah sumber TGE mempertahankan selisih potensial yang konstan dan mempunyai hambatan dalam.

Catatan kuliah untuk pekan ini bisa didownload di tautan berikut:

Pertemuan 6 Arus, Hambatan dan TGE

Tips Cerdas

Ternyata membaca al-Qur’an di waktu maghrib dan di waktu subuh bermanfaat luar biasa. Menurut hasil penelitian, membaca al-Qur’an sebelum shalat maghrib dan setelah shalat subuh itu dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 %. Hal ini karena disana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari.

Seorang dokter ahli jiwa, Dr. Al Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, maka seorang Muslim itu, baik mereka yang bisa berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan sebagai berikut:
  1. Fisiologis yang sangat besar
  2. Penurunan depresi, kesedihan
  3. Memperoleh ketenangan jiwa
  4. Menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yg dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya

Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bahwa mendengarkan al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97 % dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Ketika membaca mushaf al-Quran, seseorang juga melihat  dan mendengar al-Quran. Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat manusia, dan juga memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca al-Qur’an. Selain itu, membaca al-Qur’an juga mendatangkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang itu kuat ingatan atau hafalannya, di antaranya:

  1. Menyedikitkan makan
  2. Membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam
  3. Dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf
Masya Allah, untuk itu, mari sekarang ini kita mulai meluangkan waktu kita beberapa menit dari 24 jam di hari kita, yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca, merenungi, mentadaburi dan memahami isi yang ada di dalam kitab suci al-Qur’an.

Waspada Terhadap Radikalisme dan Terorisme

Polresta Pekanbaru bekerja sama dengan Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru menggelar kegiatan Tablig Akbar pada hari Sabtu besok (2/4/16) pukul 9.00 WIB. Kegiatan yang disiarkan oleh TV Riau Channel ini mengangkat tema ” Waspada Terhadap Radikalisme, Terorisme, ISIS dan Penodaan Agama”.

Pemateri tablig akbar ini adalah Ustadz Ali Musri Semjan Putra, Dosen Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah Imam Asy-Syafi’i Jember dan Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Mudir Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Dr.H.Patrialis Akbar,SH.MH, Ketua MUI Pekanbaru, Kapolda Riau, Gubernur Riau, Kapolresta Pekanbaru, Kemenag Riau dan Pekanbaru.

Dijelaskan bahwa ada dua penyebab utama timbulnya radikalisme dan terorisme di kalangan pemuda Islam di Indonesia. Jika penyebabnya tidak dicarikan solusinya maka mustahil dapat mencegah radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Penyebab pertama adalah penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh umat Islam di luar negeri menimbulkan kemarahan dan dendam di hati pemuda muslim terhadap Israel, Amerika dan negara-negara yang mayoritas beragama non-muslim. Solusinya adalah pemerintah Indonesia harus lantang menyuarakan hal ini konferensi PBB dan negara-negara OKI.

Penyebab kedua adalah dangkalnya pemahaman terhadap syariat Islam khususnya tentang aqidah yang benar, keta’atan terhadap pemerintah dan akhlak terhadap orang kafir atau non-muslim. Solusinya adalah majelis ulama harus mengajarkan hal ini kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah dan Kepolisian yang diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk melindungi negara.

Ungkapan senada juga disampaikan Abuz Zubair Hawaary,Lc selaku, Pimpinan Pompes Imam Ibnu Katsir Pekanbaru. Generasi muslim saat ini dinilai kurang dalam memahami agamanya. Tidak mau bertanya kepada para guru-guru agama, tidak ingin mempelajari kandungan al-Quran dan Sunnah dan tidak mau belajar duduk bersama jemaah muslim lainnya. Saat ini sudah saatnya umat Islam bersatu padu dalam menjaga keutuhan Islam berdasarkan al-Quran dan Sunnah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 564 other followers