Phi   4 comments

Pagi itu Sophie berdiri di depan kelas dan menulis angka kesukaannya pada papan tulis: 1,618. Kemudian ia berpaling menghadap ke para mahasiswanya yang bersemangat. “Siapa yang dapat mengatakan pada saya, ini nomor apa?”

Dari baris belakang seorang pemuda berkaki panjang mengangkat tangannya, “Itu angka phi”. Dia melafalnya fi.

“Bagus, Sokrates” ujar Sophie. “Semuanya, kenalkan ini phi.”

“Angka phi ini, ” Sophie melanjutkan, “adalah angka yang sangat penting dalam seni. Siapa yang dapat mengatakan mengapa?”

Sokrates mengangkat tangannya lagi, “Karena angka itu cantik.” Semua orang pun tertawa.

“Sebenarnya,” kata Sophie, “Sokrates benar. phi adalah angka tercantik di dunia ini.” Tawa itu langsung berhenti, dan Sokrates pun merasa pongah. Sophie kemudian menjelaskan bahwa phi diperoleh dari deret Fibonacci berikut:

1-1-2-3-5-8-13-21-34-55-89-144-233-377-610-987-1597-2584…

Karakteristik deret ini adalah setiap angka terdiri atas jumlah dua angka sebelumnya. Jika satu angka dalam deret tersebut dibagi dengan angka sebelumnya, maka diperoleh jumlah yang sangat dekat satu sama lain. Bahkan setelah urutan ke-12 dalam seri, proporsi ini adalah tetap. 233/144 = 377/233 = 610/377 = 987/610 = 1597/987 = 2584/1597 = 1,618 phi!

“Terlepas dari asal matematis phi yang tampak mistis,” Sophie menjelaskan, “aspek menggelitik akal sesungguhnya adalah perannya sebagai dasar dari balok bangunan dalam alam. Tumbuhan, hewan dan bahkan manusia memiliki sifat dimensional yang melekat dengan keakuratan pada rasio phi banding 1. Keberadaan phi yang tersebar di alam membuat ilmuwan terdahulu menganggap bahwa angka phi pastilah telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta alam ini. Seniman Renaissance menyebarluaskan 1,618 banding 1 sebagai Proporsi Agung, Divine Proportion.”

“Tunggu dulu,” kata seorang gadis dari barisan depan. “Saya jurusan Biologi di SMU dan saya tidak pernah melihat Proporsi Agung dalam alam.”

“Tidak?” Sophie tersenyum. “Pernah belajar hubungan antara betina dan jantan dalam komunitas lebah madu?”

“Tentu, lebah betina selalu berjumlah lebih banyak daripada lebah jantan.”

“Benar. Dan tahukah jika kamu membagi jumlah lebah betina dengan jumlah lebah jantan di setiap sarang lebah di dunia ini, kamu akan mendapatkan hasil yang sama?”

“Benar?”

“Ya, phi.”

Gadis itu terkesiap, “Tidak mungkin!”

“Mungkin saja!” Sophie balas berteriak sambil tersenyum mematikan lampu dan menampilkan slide kerang laut spiral. “Kenal ini?”

“Itu sebuah Nautilus,” kata gadis jurusan Biologi lagi.

“Benar. Dan dapatkah kamu menebak berapa rasio setiap diameter spiral ke spiral berikutnya?”

Gadis itu tampak tak yakin ketika melihat lengkung-lengkung konsentris dari kerang Nautilus itu.

Sophie mengangguk. “Phi. Proporsi Agung 1,618 banding 1.”

Gadis itu tampak tercengang. Sophie melanjutkan dengan slide berikutnya, sebuah tampak dekat dari sebuah kepala biji bunga matahari. “Biji bunga matahari tumbuh melawan arah spiral. Kamu dapat menebak rasio dari setiap diameter rotasi ke rotasi berikutnya?”

“Phi?” semua berkata.

“Tepat sekali.” Sophie kemudian memperlihatkan slide bunga cemara berspiral, susunan daun pada tumpukan tumbuhan, segmentasi serangga. Semuanya memperlihatkan kepatuhan yang mengagumkan.

“Ya,” seorang mahasiswa berkata, “tapi apa hubungannya dengan seni?”

“Aha!” kata Sophie. “Senang kamu bertanya begitu.” Dia menampilkan slide gambar seorang lelaki di dalam sebuah lingkaran, The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci yang terkenal.

“Tak seorang pun mengerti lebih baik daripada Da Vinci tentang proporsi agung dalam tubuh manusia. Dialah orang pertama yang memperlihatkan bahwa tubuh manusia betul-betul terbuat dari bagian-bagian yang rasio proporsionalnya selalu sama dengan phi.”

Semua yang berada di kelas itu menatapnya ragu.

“Kalian tidak percaya?” Sophie menantang. “Lain kali jika kalian mau mandi, bawa pita meteran dan kalkulator. Cobalah ukur jarak dari puncak kepalamu ke lantai. Kemudian bagi dengan jarak dari pusar ke lantai. Tebak, angka berapa yang kamu dapat?”

“Ya, phi!” Sophie menjawab sendiri pertanyaannya. “Mau contoh lain? Ukur jarak dari bahu ke ujung jarimu, kemudian bagi dengan jarak dari siku ke ujung jarimu. Phi lagi. Yang lain? Paha ke lantai, dibagi dengan lutut ke lantai. Phi lagi. Ruas jari. Jemari kaki. Divisi tulang belakang. Phi phi phi. Saudara-saudara, masing-masing kalian merupakan penghormatan berjalan terhadap Proporsi Agung.”

Bahkan dalam kegelapan, Sophie dapat melihat semuanya tercengang. Dia merasakan kehangatan yang sudah biasa di dalamnya. Mungkin karena itu dia suka mengajar.

Posted March 11, 2015 by abdill01 in Campus

Sokrates   Leave a comment

Ia adalah seorang mahasiswa dengan baju longgar yang mungkin ketinggalan zaman. Ia tidak merokok dan tidak naik Honda. Ia bersepeda. Hampir setiap hari dikayuhnya sepeda itu dengan sepatu yang aneh di ujung kakinya yang kurus, tapi ia sendiri bukan mahasiswa yang aneh. Kecuali bahwa ia bersepeda. Kecuali bahwa ia tidak banyak bicara. Dan kecuali bahwa ia bernama Sokrates.

“Sokrates?” tanya petugas pendaftaran mahasiswa baru dengan heran, ketika ia menyebutkan namanya tiga tahun yang lalu. Sokrates mengangguk, dengan harapan bahwa keheranan itu secara resmi akan selesai. Tapi ia tahu bahwa petugas pendaftaran itu masih menyimpan calon ketawanya di perut. Ia maklum, dan juga maklum bahwa bapaknya menyukai nama-nama besar dari sejarah dunia yang sebenarnya tidak dikuasainya betul.

Maka ia berkata: “What’s in a name? Adik saya bernama Aristoteles.” Tapi sebenarnya ada juga arti nama itu bagi saudara tua Aristoteles yang kelahiran Pekanbaru ini. Sejak kecil ia tahu bahwa Sokrates adalah nama bapak filsafat di Yunani kuno. Sejak dulu ia tahu bahwa Sokrates dihukum mati karena dianggap terlalu sering menodong para pemuda dengan pertanyaan sehingga para pemuda itu berpikir. Dan rupanya berpikir serta bertanya bagi masyarakat tertentu dianggap berbahaya dari segi hankamnas, atau bagi keimanan.

Mungkin itulah sebabnya dia menjadi tak banyak omong. Meskipun tak banyak teman dan dosennya yang menyukai sikap diam Sokrates setelah melontarkan sederet pertanyaan yang bagi orang lain kedengaran justru seperti pameran kecerdasan yang pura-pura. Tapi ia telah memasang sebuah poster besar di kamar kostnya, berbunyi: MALU BERTANYA SESAT DI JALAN. Dan di hari-hari ini ia merasa kesepian karena tak seorang pun mengacuhkan pertanyaannya. Kawan-kawannya sekuliah sedang ramai mendemo pemerintah yang akan menaikkan BBM dan tarif dasar listrik. Ia memilih memutar video yang sedang ia gemari: Brother Man Ana? Dengan kata lain: juga sebuah pertanyaan.

Maka hanya teman wanitanya yang masih telaten. “Apa pertanyaanmu kali ini Sokrates?”, begitu tanyanya.

“Banyak, banyak sekali,” jawaban Sokrates. “Tapi tak seorang pun mau mendengarkan.”

“Aku mau mendengarkan,” kata teman wanitanya lagi.

“Hebat. Tapi apakah kau tahan? Sebab aku akan bertanya tentang masa depan tanah air ini. Aku akan bertanya manakah yang harus kita pilih lebih dulu: pulihnya hak-hak asasi manusia di sini, atau terjadinya pemerataan pendapatan, atau lahirnya pemerintah yang bersih. Atau bisakah ketiganya terjadi secara simultan?”

“Ah, itu semuanya abstrak, Sokrates.”

“Baiklah. Tapi misalkan kau memilih pemerataan pendapatan. Ukuran apa yang bisa dipakai untuk menilai pemerataan? Siapa yang memiliki wewenang ilmiah menentukan ukuran itu? Dari mana wewenang ilmiah itu diperolehnya? Bagaimana hak asasi orang lain untuk tidak tunduk pada ukuran itu? Perlukah hak tertentu ditiadakan untuk mengurangi peluang hidup yang tak merata?”

Teman wanitanya diam. “Hmm…” Sokrates memang rumit.

Catatan Pinggir

Posted March 9, 2015 by abdill01 in Campus

Belajar Fisika   Leave a comment

Setiap orang memiliki gaya dan cara belajar yang berbeda. Memahami gaya belajar Anda sendiri akan membantu Anda memfokuskan diri pada aspek-aspek Fisika yang mungkin menyulitkan Anda dan menggunakan komponen-komponen kuliah yang bisa membantu Anda mengatasi kesulitan tersebut. Jika Anda tipe orang yang belajar dari mendengar saja, maka mengikuti kuliah memiliki arti yang sangat penting bagi Anda. Jika Anda tipe orang yang belajar dengan cara memberikan penjelasan, maka belajar dengan mahasiswa lain akan bermanfaat buat Anda.

Untuk mempelajari Fisika lebih mudah, sekaligus mendapatkan kegembiraan dalam melakukannya,  Anda dapat bekerja dengan mahasiswa lain. Beberapa dosen  menformalkan penerapan belajar bersama  atau menfasilitasi pembentukan kelompok belajar. Anda dapat membentuk kelompok belajar dengan sejumlah mahasiswa yang tinggal di lingkungan Anda. Kelompok belajar merupakan sumber daya yang sangat bagus, terutama ketika Anda akan menghadapi ujian.

Jika penyelesaian soal adalah hal yang sulit bagi Anda, luangkanlah lebih banyak waktu untuk untuk belajar bagaimana menyelesaikan soal. Penting juga untuk memahami dan mengembangkan kebiasaan belajar yang baik. Mungkin hal yang paling penting yang dapat Anda lakukan ialah menyisihkan waktu belajar yang cukup, terjadwal dengan teratur dan dalam lingkungan yang bebas dari gangguan. Cobalah Anda jawab sendiri pertanyaan2 berikut ini:

  1. Dapatkah saya menggunakan konsep matematika dasar dari aljabar, geometri dan trigonometri? (Jika tidak, rencanakanlah jadwal penelaahannya dengan bantuan teman atau dosen Anda)
  2. Dalam kuliah Fisika, kegiatan apa yang paling mudah bagi Anda? (Lakukan ini terlebih dahulu, ini akan membuat Anda percaya diri)
  3. Apakah saya memahami materi pelajaran lebih baik jika saya membacanya sebelum kuliah,  atau justru setelah kuliah? (Metode yang ideal adalah: membaca sekilas materi pelajaran yang akan dibahas sebelum kuliah, mengikuti kuliah dengan tekun, dan kemudian membaca meteri itu lagi secara mendalam seusai kuliah)
  4. Apakah saya meluangkan waktu yang cukup untuk belajar Fisika? (Yang cukup baik adalah 3 jam di luar ruang kuliah untuk setiap jam yang Anda tempuh di ruang kuliah. Ini berarti untuk 2 jam setiap pekan di ruang kuliah, Anda harus meluangkan waktu kira-kira 6 jam setiap pekan di rumah untuk belajar Fisika)
  5. Apakah saya setiap hari belajar Fisika? (Bagilah 6 jam itu dalam sepekan, buatlah jadwal dengan menetapkan waktu tertentu untuk belajar Fisika dan lakukanlah dengan disiplin)
  6. Apakah saya belajar di tempat yang tenang, dimana saya dapat memusatkan perhatian saya? (Gangguan akan merusak rutinitas dan keseriusan Anda, dan menyebabkan Anda kehilangan poin-poin penting)

Posted March 3, 2015 by abdill01 in Campus

Semangat Baru   Leave a comment

semangat

Ar-Ruuhul Jadiid!

Semester yang lama telah berlalu. Saatnya masuk ke semester baru dengan semangat baru. Belajar meninggalkan cara belajar dan manajemen waktu yang tidak tepat. Semester yang lalu patut untuk dikenang di mana banyak kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Setiap mahasiswa pasti ingin mendapat nilai terbaik setiap pengumuman di akhir semester. Tetap bersyukur saat nilai naik maupun turun. Saat naik, maka berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya. Apabila turun lebih lagi memberikan waktu dan belajar yang tepat. Tidak sekedar belajar dalam waktu yang lama, tapi mengetahui cara mendapat nilai yang baik.

Semangat bisa pudar saat menghadapi proses dengan rasa tidak mampu. Pastikan kamu tetap memiliki semangat dan gigih dalam kondisi apapun. Lingkungan dan hubungan dengan sahabat bisa mempengaruhi semangatmu. Tetaplah memiliki kontak dengan orang di sekitar kita serta bijaklah dalam mengambil tindakan, mana yang harus didahulukan.

Selamat berjuang mahasiswa-mahasiswiku!! Semoga sukses di semester ini!! :)

 

Posted March 2, 2015 by abdill01 in Words

Menepati Janji   Leave a comment

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Tiada Ilah yang patut disembah, diibadahi, dipuji dan ditaati selain Allah. Dialah Al-Khaliq yang telah menurunkan Islam sebagai aturan yang adil, agung lagi mulia yang merupakan rahmat dan nikmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan Allah kepada penutup para nabi dan Rasul, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita, serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan marilah kita senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal selamanya. Bahkan sebenarnya kita sedang dalam satu perjalanan menuju tempat tinggal yang sesungguhnya di alam akhirat nanti. Telah banyak orang yang dulunya bersama kita, telah meninggal dunia kini. Mereka telah meninggalkan tempat beramalnya di dunia ini menuju tempat perhitungan dan pembalasan amalan. Akan segera datang pula saatnya kita menyusul mereka. Maka, marilah kita manfa’atkan dunia ini sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat kita. Sungguh akan menyesal seseorang ketika pada hari perhitungan amal nanti dia datang dalam keadaan tidak membawa amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Pada hari itu teringatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi ingatan itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku (di akhirat) ini.” (QS Al-Fajr 23-24)

Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah telah menciptakan manusia dengan kekuasaan-Nya, memberikan mereka nikmat yang berlimpah, mengutus pada mereka para nabi dan rasul-Nya, agar menjelaskan pada mereka mengenai syariat agama-Nya, menunjukkan mereka pada nilai-nilai yang baik dan etika yang mulia, agar Allah disembah sesuai dengan benar, memperlakukan sesama dengan perlakuan yang santun, sehingga ia dapat berbuat baik untuk negerinya dan untuk kemanusiaan. Di antara prinsip-prinsip dasar yang mulia yang dibutuhkan oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan sesama manusia adalah menepati janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ العَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”. (Al Isra’ 17 : 34)
Menepati janji artinya melaksanakan janji tersebut dengan amanah. Menepati janji menunjukkan kesempurnaan iman seseorang dan merupakan salah satu ciri orang-orang beriman yang akan mewarisi surga Firdaus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”. (Al-Mukminun 23 : 8)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semua perintah Allah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk dalam kategori janji antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sesungguhnya janji pertama dalam kehidupan manusia adalah janji keimanan, dimana Allah telah mengambilnya dari seluruh anak cucu Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Al A’raf 7 : 172)
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita agar selalu menepati janji kita terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa, dan kita dianjurkan agar selalu mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan Sayyidul Istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki, Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepadaku; dan Aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan, karenanya ampunilah aku, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”. (HR. Bukhari)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya janji Allah, merupakan janji yang paling tinggi kedudukannya dan paling suci, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan mengenai janji tersebut, dan Allah memerintahkan agar menepatinya:
وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan tepatilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”. (Al An’am 6 : 152).
Sesungguhnya menepati janji Allah adalah dengan mentaati perintah-Nya, menjauh dari larangan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya agar kita semua menjadi orang yang bertakwa, yang akan mendatangkan cinta Allah Tuhan semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran 3 : 76)
Dan firman-Nya:
وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Fath 48 : 10)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara penepatan janji adalah memenuhi janji sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu”. (Al Maidah 5 : 1)
Hasan Al Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan akad diatas adalah akad hutang, yaitu akad seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti jual beli, sewa dan kontrak, pernikahan dan perceraian, kepemilikan, perjanjian damai dan lainnya (Tafsir At Thabari 6/32). Akad itu berarti keharusan yang harus ditunaikan antara manusia dalam bermuamalah, seperti akad jual beli, kontrak kerja dan lain sebagainya, mengingikari janji, kontrak dan akad berarti bentuk pengurangan dalam beragama, dan penghilangan hak-hak, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
لاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak bisa dipegang janjinya” (HR. Ahmad)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila Anda seorang pedagang, maka juallah dagangan Anda sesuai dengan kriterianya dan syarat-syaratnya, dan bila Anda membeli barang dagangan, maka bayarlah dengan tepat waktu, dan janganlah menunda-nunda pembayaran, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ
“Penundaan (membayar hutang) orang kaya termasuk perbuatan dzalim” (Muttafaq ‘alaih)
Bila Anda seorang pegawai, ketahuilah bahwa disiplin Anda dalam menjalankan akad kerja merupakan kewajiban, Anda hendaknya menghargai kontrak kerja, menjaganya, menunaikan tugas dengan jujur dan ikhlas, dengan selalu mentaati Allah dan berkhidmat pada masyarakat, dan dengan sumpah yang Anda ucapkan, itu berarti penegasan agar Anda menunaikan janji Anda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu)”. (An Nahl 16 : 91)
Tafsir ayat ini: janganlah kalian membatalkan perjanjian dan akad kalian yang telah kalian perkuat dengan sumpah kalian, hanya karena kalian menginginkan keduniawian dari pembatalan itu, sesungguhnya yang ada di sisi kalian itu akan sirna walaupun banyak, sementara yang ada di sisi Allah bagi orang yang menepati janji dan taat pada Allah, akan kekal dan tidak fana, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal” (An Nahl 16 : 96)
Ya Allah sesungguhnya kami memohon pada-Mu untuk menjadikan kami termasuk orang menunaikan amanat dan janji kami, yang mengamalkan kitab-Mu, yang berpegang teguh dengan petunjuk sunnah nabi-Mu, dan berilah kami selalu taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (An Nisa’ 4 : 59)

Posted January 23, 2015 by abdill01 in Friday Sermon

Ujian   Leave a comment

Ujian dalam istilah sehari-hari sering diartikan sebagai proses yang harus dilalui seseorang sebelum naik kelas. Dalam ranah akademis, ujian sering disamakan dengan istilah evaluasi. Banyak ahli yang telah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ujian.

Di antaranya Orthen dan Sanders, penulis buku  Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines, mendefinisikan evaluasi adalah proses penilaian terhadap kualitas, efektifitas, proses, hasil, tujuan, atau kurikulum. Sedangkan Asep Jihad dan Abdul Haris, penulis buku Evaluasi Pembelajaran, berpendapat bahwa evaluasi belajar merupakan sebuah penilaian untuk melihat kemajuan hasil belajar siswa, dalam rangka mengukur tingkat penguasaan mereka terhadap proses belajar dalam periode tertentu.

Dengan demikian evaluasi belajar harus bertitik tolak pada apa yang telah dipelajari melalui interaksi peserta didik dengan gurunya selama batas waktu yang telah ditentukan. Bila mengacu pada pandangan Benjamin S. Bloom, yang idenya dipakai oleh kurikulum 2013, evaluasi belajar itu setidaknya meliputi tiga ranah: yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi pada ketiga ranah ini ditujukan untuk melihat apakah terjadi penambahan muatan pengetahuan, perubahan sikap atau tingkah laku, serta keterampilan siswa dalam menguasai dan mengimplementasikan pengetahuannya.

Oemar Hamalik, penulis buku Kurikulum dan Pembelajaran, memberi pengertian yang lebih luas. Menurutnya, perlu dibedakan antara evaluasi (penilaian) dan measurement (pengukuran). Pengukuran adalah upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran bermaksud menentukan luas, dimensi, banyaknya, derajat atau kesanggupan suatu hal atau benda. Tugas pengukuran berhenti pada mengetahui ”berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa” tanpa memperhatikan arti dan penafsiran mengenai banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan penilaian adalah serangkaian program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman yang diperoleh dari proses pendidikan. Dengan kata lain, penilaian adalah upaya untuk memantau sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar dan pembelajaran.

Bagaimana jika siswa yang menghadapi ujian melakukan kecurangan? Meskipun kecurangan itu lolos dari pengawasan, namun yang rugi sebenarnya adalah siswa itu sendiri. Pertama, ia telah berbuat maksiat (dosa) karena melakukan kebohongan. Hal ini akan menimbulkan perasaan bersalah dan kegalauan hati yang hanya bisa dihilangkan dengan istighfar dan mengakui kecurangan tersebut kepada sang guru. Kedua, ia tidak akan mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Dan yang ketiga, dapat dipastikan ia tidak akan lulus dalam ujian selanjutnya yang memiliki keterkaitan.

Pohon kejujuran itu pahit, tapi buahnya manis. Ilmu yang bermanfaat hanya akan diperoleh jika Anda memintanya kepada Allah dan mempelajarinya dengan niat yang ikhlas dan kejujuran dalam menghadapi ujiannya.

Posted January 19, 2015 by abdill01 in Words

Minggu Tenang   Leave a comment

Assalaamu’alaikum semuanya. Istilah minggu tenang mungkin kurang cocok buat mahasiswa, karena minggu tenang justru waktu sibuk belajar untuk persiapan ujian akhir semester. Namun pesan saya, persiapan menghadapi ujian itu sudah dicicil dari sekarang dan sudah selesai satu hari menjelang hari H. Satu hari menjelang ujian bukan waktu yang tepat untuk belajar, tapi lebih tepat untuk istirahat, tidur cukup, persiapan alat tulis, dan jangan coba-coba membuat contekan. Barang siapa yang membawa contekan ke ruang ujian, meskipun tidak sempat dilihat, berarti telah berniat untuk menyontek. Jika ketahuan oleh pengawas, maka akan dikeluarkan dari rung ujian, dan dianggap tidak lulus mata kuliah tsb.

Seperti yang sudah diumumkan oleh sekjur di facebook grup Ciloteh Anak TE, jadwal ujian Alpro adalah hari Selasa 20 Januari 2015 jam 10.00 WIB, sedangkan jadwal ujian Jarkom adalah hari Jumat 23 Januari 2015 jam 10.00 WIB.

Untuk mahasiswa yang mau ujian Alpro, selain dari 10 contoh soal dan penyelesaian yang dibahas di dua pekan tambahan kuliah, pelajari juga cara mengisi nilai secara langsung pada tipe data larik dan tipe terstruktur. Ada 4 soal dan durasi ujian 60 menit, jadi satu soal 15 menit.

Untuk mahasiswa yang mau ujian Jarkom, selain handout Transport Layer hingga Application Layer, pelajari juga soal-soal Quiz yang terdapat di Kurikulum Cisco. Ada 5 soal essay dan 10 soal pilihan ganda, durasi ujian 60 menit.

Semoga sukses!

Posted January 12, 2015 by abdill01 in Tips n Tricks

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 444 other followers