Ketupat Lebaran

Lebaran di Indonesia identik dengan pakaian baru, ketupat dan pulang kampung alias mudik. Jika tidak ada salah satu dari yang tiga itu maka rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi kalau ketiganya tidak ada. Hal ini sangat dipahami oleh ustadz Bakhtiar. Mungkin itulah sebabnya beliau mengundang Fahri dkk ke rumahnya.

Namun bagi Fahri yang sudah merantau sejak sekolah menengah dan terbiasa hidup mandiri, lebaran tidaklah harus mudik, beli baju baru dan makan ketupat. Yang lebih penting baginya adalah puasa Syawwal dan mempertahankan hal-hal positif yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan. Sebenarnya ia telah berniat puasa hari ini, namun karena ketiduran ia tidak sempat makan sahur. Apalagi setelah dibujuk-bujuk oleh Rayhan dan Muaz akhirnya ia membatalkan niat puasanya hari ini.

Ketika masuk ke rumah, di ruang tamu tampak ustadz Bakhtiar sedang duduk berbincang dengan seorang laki-laki bule yang mengenakan jas biru dan rompi dari wol halus seperti yang terlihat dalam berbagai foto di halaman majalah seni ternama. Walaupun tinggi besar menurut ukuran Indonesia, laki-laki itu memiliki daya tarik seorang terpelajar, rambut cokelat tebal yang mulai tampak beruban dan mata biru yang tajam menyelidik.

Fahri yang masuk duluan menurunkan Khalifah dari gendongannya dan menyalami tangan gurunya: “Assalaamu’alaikum Ustadz, taqabbalallahu minna waminkum.” Ustadz Bakhtiar tersenyum. “Taqabbal ya kariim, hari ini tidak puasa Syawwal kan?” tanya ustadz Bakhtiar. “Belum Ustadz,” jawab Fahri malu teringat niat puasanya tadi malam. “Baik, perkenalkan ini dokter Mochtar.” Fahri dkk kemudian bergantian menyalami tangan laki-laki yang tidak lain adalah ayah mertua dari ustadz Bakhtiar. Jabat tangan kekar dokter itu seolah menguji kekuatan fisik dari ketiga mahasiswa Indonesia itu.

Masih dalam bahasa Indonesia ustadz Bakhtiar kemudian mempersilakan dokter Mochtar, Fahri dkk ke ruang makan di mana telah terhidang ketupat gulai paku, bala-bala serta kerupuk emping dan kuah kacang. Selain itu juga ada es buah dan lopis ketan lengkap dengan kelapa parut dan manisan gula merah. Fahri dkk seolah tak dapat mempercayai apa yang mereka lihat itu. Mereka seperti musafir lalu yang melihat fatamorgana di padang tandus.

Ustadz Bakhtiar seolah mengetahui apa yang dipikirkan Fahri dkk. ”Kalian pasti sudah lama tidak makan ketupat lebaran, ini semua dibuat oleh adik istri saya. Dokter Mochtar ini sekeluarga dulu pernah tinggal Indonesia selama beberapa tahun. Itu sebabnya beliau bisa berbahasa Indonesia. Beliau ini direktur sebuah rumah sakit di Melbourne.”

Sambil menikmati ketupat lebaran, Fahri dkk bertukar cerita dengan dokter Mochtar. Ternyata beliau datang dari ke Sydney untuk menghadiri wisuda putri bungsunya dan sekaligus membawanya untuk kerja praktek di Melbourne. Rayhan dan Muaz tentu saja amat menyayangkan hal ini karena itu berarti tidak ada lagi wisata kuliner ke rumah ustadz Bakhtiar dan semakin kecil pula harapan berkenalan dengan Aisha.

Tapi bagi Fahri ini seperti petir di siang bolong. Sehari sebelum lebaran ia dipanggil oleh Andrew, atasannya di kantor yang menawarkannya posisi senior engineer di kantor cabang di Melbourne. Tadinya ia sama sekali tidak berminat, namun sekarang ia jadi tertarik mengisi lowongan tersebut. Lagipula semester depan ia sudah mulai menulis tesis dan itu berarti tidak perlu sering datang ke kampus. (Bersambung)

For Your Eyes Only

Sahabat sejati adalah sahabat di waktu senang dan susah. A friend in need is a friend indeed. Rayhan dan Muaz sangat memahami hal ini. Mereka berkenalan dengan Fahri melalui milis Rantau.net. Adalah kebiasaan Fahri menulis pengalamannya di milis tersebut dan kebetulan dibaca oleh Rayhan dan Muaz. Mereka tertarik mengikuti jejak Fahri dan akhirnya keduanya mendapatkan beasiswa dari Ausaid di Sydney.

Ketika Fahri mengetahui hal tersebut, dengan semangat ia langsung menawarkan tempat tinggalnya kepada Rayhan dan Muaz. Kebetulan dua orang housemate Fahri telah menyelesaikan kuliah. Keduanya berasal dari Malaysia bernama Zulkifli dan Shahriman. Zulkifli kembali ke Johor Baru sedangkan Shahriman kembali ke Kuala Lumpur. Demikianlah Fahri, Rayhan dan Muaz bertemu pertama kali di bandara Sydney dan mereka segera menjadi teman akrab seolah telah lama berkenalan.

Hari masih pagi, matahari belum terasa menyengat. Fahri dkk telah bersiap berangkat untuk berlebaran ke rumah ustadz Bakhtiar. Mereka hanya sarapan dengan sereal secukupnya dan minum kopi Kapal Api yang dibeli di sebuah minimarket di Lakemba. Terbayang nanti di rumah ustadz Bakhtiar sudah tersedia sarapan yang tidak pernah mereka rasakan di rumah kost. Kali ini mereka tidak naik train tetapi naik mobil titipan salah seorang mahasiswa Indonesia yang pulang mudik ke Jakarta. Di antara mereka bertiga, hanya Fahri yang memiliki Australian driving license, meskipun masih kategori P. Sedangkan Rayhan dan Muaz hanya memiliki SIM A dari tanah air.

Fahri mengemudikan mobil dengan santai sambil mendengarkan kedua temannya yang ngobrol tentang siapa lagi kalau bukan Aisha. Ketika ditanya tentang Aisha, Fahri menceritakan pengalamannya diperkenalkan oleh ustadz Bakhtiar waktu lebaran tahun lalu. Fahri hanya dapat melihat kedua matanya karena wajahnya tertutup oleh cadar hitam. Sebagaimana Ummu Rashad, Aisha kuliah di fakultas kedokteran dan sudah memasuki tahun ketiga. Artinya tahun ini dia boleh jadi selesai dan kerja praktek tidak tetap di rumah sakit.

Tiba-tiba Rayhan bertanya, “Kira-kira tinggian mana Aisha sama saya Mas Fahri?”

“Hmmm..”, Fahri melihat ke arah Rayhan. “Tinggian dia kemana-mana Han,” jawab Fahri sekenanya.

Fahri merasa kasihan melihat ekspresi wajah Rayhan. Kemudian ia menambahkan, “Tapi kalau yang datang melamar itu laki-laki yang sholeh, maka tidak ada alasan bagi orangtuanya untuk menolaknya”. Kata-kata Fahri kembali membuat Rayhan semangat.

Tidak sampai setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah ustadz Bakhtiar. Rumah itu terlihat sepi. Jangan-jangan tuan rumah masih tidur. Mereka bertiga tetap duduk di dalam mobil tidak tahu apa yang akan dilakukan hingga tiba-tiba pintu rumah terbuka dan tampak Khalifah keluar berlari ke arah mobil yang mereka kendarai. Ternyata mereka telah ditunggu. Sambil menggendong Khalifah, Fahri berjalan bersama Rayhan dan Muaz masuk ke rumah putih yang bertetangga dengan mesjid Ali bin Abi Thalib itu. Sungguh mereka tidak pernah menyangka apa yang akan menanti mereka di dalam. (Bersambung)

Sebulan Kemudian

Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa Ramadhan sudah berlalu dan memasuki hari kedua bulan Syawwal. Kerinduan hati pastilah melanda setiap perantau muslim yang berasal dari Indonesia di Australia. Rindu bertemu keluarga dan handai taulan. Rindu suasana lebaran yang  ramai dan ceria dengan anak-anak bermain dan kue-kue lebaran. Betapa sunyinya lebaran di Australia. Tak ada istilah lebaran hari kedua atau suasana lebaran selama sepekan. Di sini lebaran hanya sehari dengan segelintir orang terus kembali ke rutinitas kerja atau kuliah yang membosankan.

Tak hanya itu yang dirasakan oleh Fahri. Ia bersyukur sekali karena telah menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh dan menuntaskan hafalan al-Qur’an juz 27 hingga i’tikaf selama sepuluh malam terakhir di mesjid al Hijrah. Sejak pertemuan terakhir dengan Maria di shelter bus, ia menyibukkan dirinya dengan bermacam aktivitas yang membuatnya lupa dengan kegalauan hatinya. Satu hal lagi yang disyukurinya adalah sejak saat itu Maria tak pernah menghubunginya lagi.

Tapi entah mengapa di pagi hari kedua bulan Syawwal ini hatinya merasa rindu pada Maria. Apakah ini bisikan syaitan yang terlepas belenggunya atau hawa nafsunya sendiri? Dalam hati Fahri berkata, inilah akibat tidak konsisten dengan niatnya tadi malam untuk mulai puasa Syawal di hari kedua. Hanya karena tidak terbangun makan sahur, ia dengan begitu mudah menunda niatnya untuk puasa Syawwal.

Sekarang ia tak memiliki perisai pelindung dari rasa rindu yang begitu menyiksa. Ditatapnya handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya. Benda itu seperti memanggil-manggil dirinya untuk menelpon Maria, paling tidak meninggalkan pesan singkat iedul fitri. Apalah salahnya cuma mengirim sms iedul fitri?

Dalam keadaan bimbang Fahri beranjak mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat. Jika puasa adalah perisai maka shalat adalah senjata penolong bagi orang Islam. Fahri berharap shalatnya dapat membunuh rasa rindu di  hatinya. Dalam sujud terakhir berulang kali ia berdoa, “Ya Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik wa thaa’atik…”

Itulah do’a yang senantiasa dibacanya untuk menenangkan hati. Hati manusia itu sesungguhnya berada di ujung jemari Allah, dan Dia-lah yang membolak-balikkannya. Jika manusia tulus meminta kepada Allah, niscaya permintaan itu akan dikabulkanNya. Begitu selesai shalat Fahri tidak merasa ragu lagi. Ia takkan mengirim sms apalagi menelpon Maria. Bukankah masih banyak wanita lain yang lebih salihah, cantik dan cerdas. Hari ini ia sudah berjanji dengan housemate-nya untuk berlebaran ke rumah Ustadz Bakhtiar. (Bersambung)


Ujian Akhir Semester

semangat

Finally, the final exam is just around the corner! Tak terasa sebentar lagi ujian akhir semester. Persiapan terbaik adalah berlatih mengerjakan soal-soal latihan terutama soal-soal tugas terstruktur dan quiz. Meskipun tidak persis sama, namun soal-soal ujian akhir semester itu terwakili oleh soal-soal tugas terstruktur dan quiz yang pernah diberikan. Jika Anda dapat mengerjakan sendiri tugas-tugas terstruktur tanpa melihat catatan, maka ujian akhir semester sudah tentu dapat Anda kerjakan dengan mudah.

Adapun jadwal ujian yang telah diumumkan jurusan untuk mata kuliah Listrik dan Magnetika adalah tanggal 29 Juni 2015 jam 08.00 WIB, dengan lokasi untuk lokal A di ruangan 203 dan lokal B  di ruangan 204.

Pesan saya jangan terlambat datang ke ruang ujian, durasi ujian hanya 75 menit dan jumlah soal ada 6, jadi alokasi waktu adalah 15 menit per soal. Jangan coba-coba membawa contekan dalam bentuk apapun dan sekecil apapun. Karena meskipun tidak sempat digunakan tapi jika ketahuan membawa contekan, maka akibatnya fatal.  Pengawas hanya akan mencatat nama peserta yang tidak jujur dan nilai ujian Anda nol.

Satu hal lagi jangan lupa membawa kalkulator dan alat tulis lengkap, karena selama ujian dilarang pinjam meminjam kalkulator dan alat tulis. Jadi Anda tidak perlu membawa kertas jawaban dan kertas buram. Semuanya akan disediakan oleh panitia ujian. Yang penting adalah persiapan ujian yang maksimal, istirahat cukup dan datang tepat waktu.

Wassalaamu’alaikum, semoga berhasil!

Nasi telah jadi bubur

Maria agak cemas melihat perubahan roman wajah Fahri yang terlihat emosional. Tiba-tiba Fahri menepikan mobil dan berhenti dekat sebuah shelter bus. Fahri tersenyum kecut, menyesali kebodohannya. Gadis cantik dan cerdas seperti Maria mana mungkin sudi bersanding dengan dirinya. Inilah buah kenekadan mencurahkan isi hatinya.

Congratulations on your engagement. From now on, I think we should never see each other. I’ll catch bus from here and thanks for everything…” Fahri terus nyerocos sambil bergerak keluar mobil.

Maria ikut keluar mobil, tak disadarinya matanya telah berkaca-kaca mengejar Fahri yang terus duduk di bangku shelter yang sepi. ”It’s not fair! Give me a chance to explain..

Maria ikut duduk di sebelah Fahri, ia tak menghiraukan butir-butir air matanya yang bercucuran, “Do you know that I’ve been waiting that confession for so long? Do you know that I was so lonely and missed you so much that I cried on my pillow every night?” I still can’t believe that I saw you again…”

Maria terengah-engah tak dapat melanjutkan kata-katanya, tapi Fahri seperti tak mendengar bahkan tak menoleh sedikitpun. Maria tak kuasa mencegahnya ketika sebuah bus berhenti dan Fahri melompat naik meninggalkan Maria yang menangis di shelter sendirian.

Fahri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hatinya masih kesal dan marah. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak bisa mengukur diri. Ia merasa seperti pungguk yang merindukan bulan. Meskipun ia telah memperkirakan jawaban tersebut dari bibir Maria, tapi tetap saja ia tak sanggup menahan dan menanggungnya.

Sementara itu Maria telah menyeka air mata dengan jilbab. Ia berusaha tegar dan kembali ke dalam mobil yang mesinnya masih menyala. Ia tak menduga sedikitpun reaksi Fahri akan seperti itu. Ia menyesal mengapa begitu tergesa memberitahukan keadaan dirinya. Tapi nasi telah jadi bubur, yang dapat dilakukan adalah membuatnya menjadi bubur ayam yang gurih dan nikmat seperti yang pernah diajarkan Fahri kepadanya. (Bersambung)

Penyesalan

Fahri menatap lurus ke depan, kedua matanya menyipit dan bibirnya terkatup rapat. Kedua cuping telinganya bergerak-gerak. Maria maklum itu pertanda Fahri sedang berpikir keras. Bertahun-tahun menjadi sahabatnya, Maria telah terlatih membaca wajah Fahri. Waktu berjalan dengan lambat, dengan sabar Maria menunggu apa yang akan dikatakan Fahri. Ia tahu Fahri akan mengatakan sesuatu yang tak tertahankan dan  tak tertanggungkan.

For me, you are my favorite friend.” Itulah kesimpulan yang paling simpul. Ia tak dapat menemukan kata lain untuk mengungkapkan perasaannya pada Maria.

That’s it?” tanya Maria setelah Fahri diam beberapa saat. “That’s it!” Fahri mengangguk mantap. Dalam hatinya menggerutu mengapa ia tak pernah mempersiapkan apa yang akan diucapkan jika Maria menanyakan hal tersebut. Tapi bagaimana mungkin ia mempersiapkannya jika ia tak pernah menduga Maria akan menanyakannya?

Keadaan menjadi diam. Maria berharap Fahri lebih terbuka. Ia tak pernah bisa membuat Fahri mengucapkan bagaimana perasaan terhadap dirinya. Fahri memang seorang pria yang tak banyak bicara, tapi yang diucapkan lewat ekspresinya jauh lebih artikulatif daripada kata-kata.

If I’m your favorite friend, then why did you leave me and treat me like someone you don’t care about? Maria benar-benar menginginkan kebenaran dan sebuah kejelasan.

Here we go…” Fahri berkata dalam hati, ia teringat kembali pada masa tiga tahun silam ketika mereka masih kuliah dan sedang melakukan penelitian tugas akhir di Alexandria. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu hingga kemarin sore di dalam kereta listrik.

Fahri berpikir mungkin ini waktunya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun ia harus siap dengan segala konsekuensinya. “I’m sorry if that’s how you feel about me. Awright, I will explain…

Setelah menghela nafas panjang akhirnya Fahri berkata, “Do you remember when we met at the lab? Since then, I just couldn’t get you out of my mind. I saw your face before me as I laid on my bed. I kinda got to thinking of all the things you said. I kept talking to myself that you were only my illusion. But it hurt me so much that I decided to avoid you.”

Fahri jadi heran sendiri mengapa ia sanggup mengucapkan kata-kata tersebut dengan fasih. Agaknya ia terlalu banyak mendengar lagu baladanya Wet Wet Wet. Di sisi lain Maria tertegun, baru kali ini ia mendengar curahan hati Fahri. Tapi tetap saja tak ada pengakuan bahwa Fahri telah jatuh cinta padanya.

Setengah berbisik Maria bertanya lagi, “Did  you fall in love with me?

Fahri tak tahan didesak terus oleh Maria, dengan sedikit kesal ia berkata, “If a confession satisfies you, yes! I’ve been in love with you.

Maria masih belum puas. Bukankah jawaban itu berarti Fahri sekarang tidak mencintainya lagi? Belum sempat ia berpikir jauh, Fahri telah mendahuluinya. “What about you Maria, do you have a boyfriend? Fahri mengambil kesempatan untuk menanyakan hal yang ingin diketahuinya.

Do you really wanna know?” Maria tidak langsung menjawab, raut wajahnya terlihat sangat serius.

Yes, please.” Fahri tercekat melihat perubahan pada raut wajah Maria.

I’m engaged to somebody.” Maria berkata pelan tapi membuat Fahri tersentak untuk kesekian kalinya. Apakah ia tak salah mendengar apa yang dikatakan Maria?

Are you serious? Then we should’nt be here together. How would your fiance feel about if knowing that you go out with me?” Fahri masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Hatinya remuk redam sehingga hampir ia tak dapat menguasai kemudi mobil yang dikendarainya. Tapi salah dirinya sendiri, mengapa dulu ia tak berani mengungkapkan perasaannya ketika kesempatan terbuka lebar? Mengapa penyesalan selalu datang terlambat? (Bersambung)

Joyride

Fahri berjalan duluan ke arah parkir mobil dipandu oleh Maria dari belakang. Kebiasaan yang tidak biasa karena mereka tak pernah berjalan beriringan meskipun menuju arah yang sama. Satu-satunya mobil di tempat parkir adalah sedan porsche carrera convertible berwarna merah metalik. Fahri menghentikan langkahnya, ia merasa dikerjai.

Maria segera menyusul Fahri, “Sorry I forgot my car is under repair. That’s my aunt’s car, though you could drive it if you like”. Maria memandang Fahri dengan pandangan memelas. Fahri bimbang, ia percaya pada Maria tapi juga takut berdekatan di sebelahnya. Ah, kecebur sekalian saja pikirnya liar.

“Well, in this emergency case I’ll take the risk.” Fahri sedikit menyesal telah menerima tawaran Maria. Dalam hatinya ia merasa dag dig dug karena belum pernah menyetir mobil sport apalagi dengan posisi duduk yang begitu dekat dengan Maria. Untungnya mobil ini menggunakan gear manual.

Mobil sport itu perlahan bergerak keluar kampus. Fahri berusaha mengemudi dengan tenang. Ia hanya mengetahui rute yang biasa dilewatinya kalau naik bus. Convertible adalah mobil sport yang atapnya otomatis bisa dilipat ke belakang sehingga penumpangnya kena AC, Angin Cuma-cuma. Dalam perjalanan ia sempat melihat beberapa mahasiswi Indonesia yang berjalan berombongan. Ia sepertinya mengenal salah seorang dari mereka.

Maria maklum Fahri merasa risih terlihat berduaan dengannya. Ia kembali menekan tuas untuk memasang kap mobil dan menghidupkan AC. Untuk mengisi keheningan Maria menyetel CD musik gitar klasik yang selalu berada di mobilnya. Suasana sore hari itu mendadak berubah menjadi romantis. Fahri merasa canggung, ia tak biasa dengan suasana seperti itu.

“It’s a …” Fahri dan Maria berbicara hampir bersamaan. Maria mengalah, “You first.” Fahri tak mau kalah, “Nope, ladies first.”

Maria menghela nafas panjang. “Fahri, hal ‘indikal mar’ah?” tercekat Maria bertanya dalam bahasa arab fusha yang dulu biasa mereka gunakan di Alexandria.

Fahri tersentak dengan pertanyaan Maria, tapi ia cepat menguasai dirinya. Dengan tenang ia menjawab, “Maa fi.

“Then, where am I in your universe?” Maria tak memberi Fahri kesempatan mengambil nafas. Kali ini ia tak berbahasa Arab lagi.

“Do you really wanna know?” Fahri tidak langsung menjawab, ia hanya melirik membuat Maria penasaran.

“Yes, please.” Maria menjawab datar. Sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini sejak mereka pertama bertemu di kereta api, tapi ia belum mendapatkan waktu yang pas. (Bersambung)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 444 other followers