Lismag Pekan ke-1: Pendahuluan

Alhamdulillah, perkuliahan semester genap 2016-2017 telah dimulai hari ini. Semoga kita semua diberi kesehatan dan taufiq untuk menjalani perkuliahan semester ini. Referensi mata kuliah Listrik dan Magnetika (Lismag) diambil dari buku Young & Freedman, Fisika Universitas, Jilid 2, Edisi ke-10, bab 22 s/d 33, Penerbit Erlangga. Setiap mahasiswa harus memiliki buku ini atau minimal fotokopinya. Tersedia juga ebook dalam bahasa Inggris, university-physics-13th-edition dan university-physics-13th-edition-solution.

Judul materi pekan ke-1 adalah Pendahuluan. Mahasiswa wajib hadir pada pekan ini karena ada sosialisasi tentang aturan perkuliahan, capaian pembelajaran dan silabus rinci mata kuliah. Selain itu ada matrikulasi tentang kerangka acuan dan vektor yang harus dipahami agar mahasiswa dapat mengikuti mata kuliah ini dengan baik.

Materi utama pada pekan pertama ini adalah teori muatan dan gaya listrik. Materi ini ada di bab 22 buku referensi. Karena materinya cukup banyak, sebagian insya Allah akan dibahas pada pekan kedua. Mahasiswa harus memperhatikan pembahasan contoh soal dan penyelesaian di kelas karena ada tugas terstruktur pertama, yakni satu soal latihan untuk dikerjakan di rumah.

Catatan kuliah pekan ini dapat diunduh di tautan di bawah ini. Catatan kuliah untuk pekan-pekan berikutnya akan diunggah jam 7.00 WIB setiap hari Ahad. Jadi mahasiswa perlu mengunjungi blog ini setiap pekan. Semoga berhasil!

pekan-1-pendahuluan

 

Konversi Blog ke Mobile

Menjadi tantangan bagi seorang blogger untuk menyuguhkan blog yang tidak hanya nyaman dibaca di browser komputer desktop atau laptop, tapi juga di browser ponsel. Solusinya tidak rumit, Anda hanya perlu mengikuti 4 langkah berikut:

Langkah pertama, masuklah ke alamat http://mofuse.com dan masukkan alamat blog Anda ke dalam kolom yang tersedia. Selanjutnya klik tombol Mobilize, Anda akan dibawa ke halaman baru berisi beberapa setting dan konfigurasi.

Langkah kedua, masukkan alamat blog versi mobile Anda. Agar mudah diingat, masukkan alamat yang mirip dengan blog versi web-nya. Mofuse secara otomatis akan menambahkan akhiran mofuse.mobi pada alamat mobile Anda. Jangan lupa cantumkan judul atau tema blog Anda pada kolom Mobile Site Tittle, serta kategori blog Anda dalam kolom obile Site Category.

Langkah ketiga, untuk mengklaim alamat mobile site yang Anda buat di langkah kedua, Anda perlu membuat akun di mofuse. Masukkan password yang Anda kehendaki. Cantumkan pula alamat email Anda sehingga data-data penting seperti password dan konfigurasi situs mobile Anda terkirim ke alamat email.

Langkah keempat, Anda hanya perlu memberi tanda centang di kolom pertama layanan, kemudian klik tombol Launch Mobile Site. Sesaat kemudian Anda akan mendapatkan halaman baru bernama Dashboard. Di sini Anda bisa melakukan konfigurasi lebih lanjut terhadap situs mobile Anda, termasuk melakukan setting akun, otak-atik tampilan dan menerima pesan email.

Sekarang kita lihat perbandingan blog Anda versi web maupun versi mobilenya. Menarik bukan? Blog Anda kini lebih leluasa diakses melalui ponsel. So lets have fun with the mobile one!

Pelajarilah Bahasa Arab!

Tahukah Anda, ada 11 ayat dalam al-Quran yang menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab? Rasulullah pun pernah bersabda “Pelajarilah bahasa Arab karena tiga hal: Pertama, karena aku adalah orang Arab. Kedua, karena al-Quran berbahasa Arab. Ketiga, karena percakapan ahli surga adalah bahasa Arab.

Berbahasa Arab yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi salaf. Melalui bahasa Arab, orang dapat meraih ilmu pengetahuan karena bahasa Arab telah menjadi sarana mentransfer pengetahuan.

Umar bin Khaththab pernah berkata, “Hendaklah kamu sekalian tamak mempelajari bahasa Arab karena bahasa Arab itu merupakan bahagian dari agamamu”. Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan”.

Imam Syafi’i pernah berkata: “Manusia tidak menjadi bodoh dan selalu berselisih paham kecuali lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles.”

Republika, Jum’at, 29 Oktober 2010 pernah mengutip ucapan Yusuf Al-Qardhawi, “Umat Islam Indonesia sudah seharusnya menguasai bahasa Arab karena itu adalah bahasa Al-Quran”.

Bacalah Al-Qur’an Setiap Hari!

Tahukah Anda berapa halaman sunnah-nya membaca al-Qur’an setiap sehari? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membagi al-Qur’an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap 7 hari sekali.

‘Aus bin Huzaifah rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al-Qur’an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab, “Kami kelompokkan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat dan wirid mufashal dari surat Qaaf hingga khatam (al-Qur’an).” (HR. Ahmad).

Jadi mereka membagi bacaannya sebagai berikut:

  1. Hari pertama, membaca surat al-Fatihah hingga akhir surat An-Nisaa’
  2. Hari kedua, dari surat al-Ma’idah hingga akhir surat at-Taubah.
  3. Hari ketiga, dari surat Yunus hingga akhir surat an-Nahl
  4. Hari keempat, dari surat al-Israa’ hingga akhir surat al-Furqan
  5. Hari kelima, dari surat asy-Syu’ara hingga akhir surat Yasin
  6. Hari keenam, dari surat ash-Shaffat hingga akhir surat al-Hujurat
  7. Hari ketujuh, dari surat Qaaf hingga akhir surat an-Naas

Para ulama menyingkat wirid Rasulullah dengan al-Qur’an menjadi kata, Fami bisyauqin ( ف م ي ب ش و ق ), diambil dari awal masing-masing surat yang dijadikan wirid Rasulullah pada setiap harinya.

Sarjana

Pak Susman mengajar matematika di SMP Negeri yang dipimpinnya. Ia seorang guru yang akan dikenang para muridnya seumur hidup. Sebab pada suatu hari ia bertanya: “Untuk apa kamu belajar matematika?” Adapun yang ditanyainya adalah murid-murid kelas satu yang kedinginan oleh angin. Tapi pak kepala sekolah itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun seperti bergumam, ketika ia menyelesaikan sendiri pertanyaan yang ia lontarkan tadi: “Kamu semua belajar matematika bukan untuk jadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yakni teratur.”

Lalu dengan antusiasme mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Yang menakjubkan bukan saja ia dapat menjelaskan proses berpikir logis itu dengan gamblang di hadapan sejumlah bocah kedinginan yang berumur 13 tahun. Yang juga mengagumkan ialah bahwa ia, seorang kepala sekolah yang tak dikenal, di sebuah SMP bergedung buruk, dalam sebuah kota P yang tidak penting, ternyata bisa menanamkan sesuatu yang sangat dalam. Yakni: apa sebenarnya tujuan pendidikan sekolah.

Pak Susman meninggal kira-kira 10 tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, dan bertemu dengan seorang bekas muridnya yang lintang-pukang dan tunggang-langgang menyiapkan diri untuk ujian SNMPTN, barangkali ia juga akan bertanya: “Untuk apa semua itu?”

Ada sebuah sandiwara di televisi beberapa waktu lalu. Seorang ayah menanyai ketiga anaknya, dengan pertanyaan yang sama: “Apa cita-citamu Nak? Apa tujuanmu sekolah?” Anak yang pertama menjawab: “Saya ingin jadi pemilik toko roti yang akan saya beri nama Omar Bakery.” Yang kedua menyahut “Saya ingin menjadi ustadz Ahlus Sunnah wal Jama’ah” Yang ketiga berkata: “Saya ingin jadi sarjana.”

Jawaban yang pertama adalah spesifik, jelas dan terperinci. Jawaban yang kedua juga tak memerlukan tanda tanya baru. Tapi jawaban “Saya ingin jadi sarjana” terasa belum selesai. Diucapkan dalam bahasa Indonesia masa kini, kata “sarjana” adalah sebuah pengertian yang melayang-layang. Kita tak bisa menyamakannya dengan scholar atau scientist. Arti “sarjana” yang lazim kini tak lebih dan tak bukan hanyalah “lulusan perguruan tinggi”. Maka jika Anda masuk sebuah perguruan tinggi, karena bercita-cita menjadi “sarjana”, itu samalah kira-kira jika Anda melangkah, karena ingin berjalan. Sudah semestinya.

Kekaburan itu terjadi agaknya bukan cuma karena kacaunya pengertian “sarjana”. Tetapi juga karena sejumlah persepsi. Persepsi yang terpokok adalah persepsi tentang pendidikan sekolah serta tujuannya. Sudah tentu salah bahwa tujuan bersekolah di universitas adalah untuk mendapatkan gelar. Tapi tak kurang salahnya untuk mengira bahwa di universitas orang akan menemukan pusat ilmu, ataupun puncak pendidikan ketrampilan.

Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur hidup”. Dan dalam proses itu, universitas adalah sepotong kecil. Seorang magister dan seorang doktor, barulah mengambil bekal untuk perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai – juga belum selesai bodohnya.

Karena itu seandainya hari ini Pak Susman masih hidup, ia mungkin akan berkata : “Kamu masuk universitas, itu supaya bisa terlatih berpikir ilmiah. Itu saja, kalau dapat.”

Tips Cerdas

Ternyata membaca al-Qur’an di waktu maghrib dan di waktu subuh bermanfaat luar biasa. Menurut hasil penelitian, membaca al-Qur’an sebelum shalat maghrib dan setelah shalat subuh itu dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 %. Hal ini karena disana ada pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang hari.

Seorang dokter ahli jiwa, Dr. Al Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, maka seorang Muslim itu, baik mereka yang bisa berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan sebagai berikut:
  1. Fisiologis yang sangat besar
  2. Penurunan depresi, kesedihan
  3. Memperoleh ketenangan jiwa
  4. Menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yg dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya

Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bahwa mendengarkan al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97 % dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Ketika membaca mushaf al-Quran, seseorang juga melihat  dan mendengar al-Quran. Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat manusia, dan juga memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca al-Qur’an. Selain itu, membaca al-Qur’an juga mendatangkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang itu kuat ingatan atau hafalannya, di antaranya:

  1. Menyedikitkan makan
  2. Membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam
  3. Dan membaca Al-Qur’an sambil melihat kepada mushaf
Masya Allah, untuk itu, mari sekarang ini kita mulai meluangkan waktu kita beberapa menit dari 24 jam di hari kita, yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca, merenungi, mentadaburi dan memahami isi yang ada di dalam kitab suci al-Qur’an.

Waspada Terhadap Radikalisme dan Terorisme

Polresta Pekanbaru bekerja sama dengan Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru menggelar kegiatan Tablig Akbar pada hari Sabtu besok (2/4/16) pukul 9.00 WIB. Kegiatan yang disiarkan oleh TV Riau Channel ini mengangkat tema ” Waspada Terhadap Radikalisme, Terorisme, ISIS dan Penodaan Agama”.

Pemateri tablig akbar ini adalah Ustadz Ali Musri Semjan Putra, Dosen Sekolah Tinggi Dirasah Islamiyah Imam Asy-Syafi’i Jember dan Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Mudir Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Dr.H.Patrialis Akbar,SH.MH, Ketua MUI Pekanbaru, Kapolda Riau, Gubernur Riau, Kapolresta Pekanbaru, Kemenag Riau dan Pekanbaru.

Dijelaskan bahwa ada dua penyebab utama timbulnya radikalisme dan terorisme di kalangan pemuda Islam di Indonesia. Jika penyebabnya tidak dicarikan solusinya maka mustahil dapat mencegah radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Penyebab pertama adalah penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh umat Islam di luar negeri menimbulkan kemarahan dan dendam di hati pemuda muslim terhadap Israel, Amerika dan negara-negara yang mayoritas beragama non-muslim. Solusinya adalah pemerintah Indonesia harus lantang menyuarakan hal ini konferensi PBB dan negara-negara OKI.

Penyebab kedua adalah dangkalnya pemahaman terhadap syariat Islam khususnya tentang aqidah yang benar, keta’atan terhadap pemerintah dan akhlak terhadap orang kafir atau non-muslim. Solusinya adalah majelis ulama harus mengajarkan hal ini kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah dan Kepolisian yang diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk melindungi negara.

Ungkapan senada juga disampaikan Abuz Zubair Hawaary,Lc selaku, Pimpinan Pompes Imam Ibnu Katsir Pekanbaru. Generasi muslim saat ini dinilai kurang dalam memahami agamanya. Tidak mau bertanya kepada para guru-guru agama, tidak ingin mempelajari kandungan al-Quran dan Sunnah dan tidak mau belajar duduk bersama jemaah muslim lainnya. Saat ini sudah saatnya umat Islam bersatu padu dalam menjaga keutuhan Islam berdasarkan al-Quran dan Sunnah.