Menepati Janji   Leave a comment

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Tiada Ilah yang patut disembah, diibadahi, dipuji dan ditaati selain Allah. Dialah Al-Khaliq yang telah menurunkan Islam sebagai aturan yang adil, agung lagi mulia yang merupakan rahmat dan nikmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan Allah kepada penutup para nabi dan Rasul, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita, serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan marilah kita senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal selamanya. Bahkan sebenarnya kita sedang dalam satu perjalanan menuju tempat tinggal yang sesungguhnya di alam akhirat nanti. Telah banyak orang yang dulunya bersama kita, telah meninggal dunia kini. Mereka telah meninggalkan tempat beramalnya di dunia ini menuju tempat perhitungan dan pembalasan amalan. Akan segera datang pula saatnya kita menyusul mereka. Maka, marilah kita manfa’atkan dunia ini sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat kita. Sungguh akan menyesal seseorang ketika pada hari perhitungan amal nanti dia datang dalam keadaan tidak membawa amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Pada hari itu teringatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi ingatan itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku (di akhirat) ini.” (QS Al-Fajr 23-24)

Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah telah menciptakan manusia dengan kekuasaan-Nya, memberikan mereka nikmat yang berlimpah, mengutus pada mereka para nabi dan rasul-Nya, agar menjelaskan pada mereka mengenai syariat agama-Nya, menunjukkan mereka pada nilai-nilai yang baik dan etika yang mulia, agar Allah disembah sesuai dengan benar, memperlakukan sesama dengan perlakuan yang santun, sehingga ia dapat berbuat baik untuk negerinya dan untuk kemanusiaan. Di antara prinsip-prinsip dasar yang mulia yang dibutuhkan oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan sesama manusia adalah menepati janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ العَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”. (Al Isra’ 17 : 34)
Menepati janji artinya melaksanakan janji tersebut dengan amanah. Menepati janji menunjukkan kesempurnaan iman seseorang dan merupakan salah satu ciri orang-orang beriman yang akan mewarisi surga Firdaus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”. (Al-Mukminun 23 : 8)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semua perintah Allah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk dalam kategori janji antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sesungguhnya janji pertama dalam kehidupan manusia adalah janji keimanan, dimana Allah telah mengambilnya dari seluruh anak cucu Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Al A’raf 7 : 172)
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita agar selalu menepati janji kita terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa, dan kita dianjurkan agar selalu mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan Sayyidul Istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki, Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepadaku; dan Aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan, karenanya ampunilah aku, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”. (HR. Bukhari)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya janji Allah, merupakan janji yang paling tinggi kedudukannya dan paling suci, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewasiatkan mengenai janji tersebut, dan Allah memerintahkan agar menepatinya:
وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan tepatilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”. (Al An’am 6 : 152).
Sesungguhnya menepati janji Allah adalah dengan mentaati perintah-Nya, menjauh dari larangan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya agar kita semua menjadi orang yang bertakwa, yang akan mendatangkan cinta Allah Tuhan semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran 3 : 76)
Dan firman-Nya:
وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Fath 48 : 10)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara penepatan janji adalah memenuhi janji sesuai dengan pernjanjian yang telah disepakati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu”. (Al Maidah 5 : 1)
Hasan Al Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan akad diatas adalah akad hutang, yaitu akad seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti jual beli, sewa dan kontrak, pernikahan dan perceraian, kepemilikan, perjanjian damai dan lainnya (Tafsir At Thabari 6/32). Akad itu berarti keharusan yang harus ditunaikan antara manusia dalam bermuamalah, seperti akad jual beli, kontrak kerja dan lain sebagainya, mengingikari janji, kontrak dan akad berarti bentuk pengurangan dalam beragama, dan penghilangan hak-hak, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
لاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ
“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak bisa dipegang janjinya” (HR. Ahmad)
Jamaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila Anda seorang pedagang, maka juallah dagangan Anda sesuai dengan kriterianya dan syarat-syaratnya, dan bila Anda membeli barang dagangan, maka bayarlah dengan tepat waktu, dan janganlah menunda-nunda pembayaran, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ
“Penundaan (membayar hutang) orang kaya termasuk perbuatan dzalim” (Muttafaq ‘alaih)
Bila Anda seorang pegawai, ketahuilah bahwa disiplin Anda dalam menjalankan akad kerja merupakan kewajiban, Anda hendaknya menghargai kontrak kerja, menjaganya, menunaikan tugas dengan jujur dan ikhlas, dengan selalu mentaati Allah dan berkhidmat pada masyarakat, dan dengan sumpah yang Anda ucapkan, itu berarti penegasan agar Anda menunaikan janji Anda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu)”. (An Nahl 16 : 91)
Tafsir ayat ini: janganlah kalian membatalkan perjanjian dan akad kalian yang telah kalian perkuat dengan sumpah kalian, hanya karena kalian menginginkan keduniawian dari pembatalan itu, sesungguhnya yang ada di sisi kalian itu akan sirna walaupun banyak, sementara yang ada di sisi Allah bagi orang yang menepati janji dan taat pada Allah, akan kekal dan tidak fana, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal” (An Nahl 16 : 96)
Ya Allah sesungguhnya kami memohon pada-Mu untuk menjadikan kami termasuk orang menunaikan amanat dan janji kami, yang mengamalkan kitab-Mu, yang berpegang teguh dengan petunjuk sunnah nabi-Mu, dan berilah kami selalu taufiq untuk mentaati-Mu, mentaati Rasul-Mu Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentaati orang yang Engkau perintahkan kepada kami agar ditaatinya, sebagai pengamalan atas firman-Mu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (An Nisa’ 4 : 59)

Posted January 23, 2015 by abdill01 in Friday Sermon

Ujian   Leave a comment

Ujian dalam istilah sehari-hari sering diartikan sebagai proses yang harus dilalui seseorang sebelum naik kelas. Dalam ranah akademis, ujian sering disamakan dengan istilah evaluasi. Banyak ahli yang telah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ujian.

Di antaranya Orthen dan Sanders, penulis buku  Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines, mendefinisikan evaluasi adalah proses penilaian terhadap kualitas, efektifitas, proses, hasil, tujuan, atau kurikulum. Sedangkan Asep Jihad dan Abdul Haris, penulis buku Evaluasi Pembelajaran, berpendapat bahwa evaluasi belajar merupakan sebuah penilaian untuk melihat kemajuan hasil belajar siswa, dalam rangka mengukur tingkat penguasaan mereka terhadap proses belajar dalam periode tertentu.

Dengan demikian evaluasi belajar harus bertitik tolak pada apa yang telah dipelajari melalui interaksi peserta didik dengan gurunya selama batas waktu yang telah ditentukan. Bila mengacu pada pandangan Benjamin S. Bloom, yang idenya dipakai oleh kurikulum 2013, evaluasi belajar itu setidaknya meliputi tiga ranah: yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi pada ketiga ranah ini ditujukan untuk melihat apakah terjadi penambahan muatan pengetahuan, perubahan sikap atau tingkah laku, serta keterampilan siswa dalam menguasai dan mengimplementasikan pengetahuannya.

Oemar Hamalik, penulis buku Kurikulum dan Pembelajaran, memberi pengertian yang lebih luas. Menurutnya, perlu dibedakan antara evaluasi (penilaian) dan measurement (pengukuran). Pengukuran adalah upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif. Pengukuran bermaksud menentukan luas, dimensi, banyaknya, derajat atau kesanggupan suatu hal atau benda. Tugas pengukuran berhenti pada mengetahui ”berapa banyak pengetahuan yang telah dimiliki siswa” tanpa memperhatikan arti dan penafsiran mengenai banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan penilaian adalah serangkaian program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman yang diperoleh dari proses pendidikan. Dengan kata lain, penilaian adalah upaya untuk memantau sejauh mana siswa telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar dan pembelajaran.

Bagaimana jika siswa yang menghadapi ujian melakukan kecurangan? Meskipun kecurangan itu lolos dari pengawasan, namun yang rugi sebenarnya adalah siswa itu sendiri. Pertama, ia telah berbuat maksiat (dosa) karena melakukan kebohongan. Hal ini akan menimbulkan perasaan bersalah dan kegalauan hati yang hanya bisa dihilangkan dengan istighfar dan mengakui kecurangan tersebut kepada sang guru. Kedua, ia tidak akan mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Dan yang ketiga, dapat dipastikan ia tidak akan lulus dalam ujian selanjutnya yang memiliki keterkaitan.

Pohon kejujuran itu pahit, tapi buahnya manis. Ilmu yang bermanfaat hanya akan diperoleh jika Anda memintanya kepada Allah dan mempelajarinya dengan niat yang ikhlas dan kejujuran dalam menghadapi ujiannya.

Posted January 19, 2015 by abdill01 in Words

Minggu Tenang   Leave a comment

Assalaamu’alaikum semuanya. Istilah minggu tenang mungkin kurang cocok buat mahasiswa, karena minggu tenang justru waktu sibuk belajar untuk persiapan ujian akhir semester. Namun pesan saya, persiapan menghadapi ujian itu sudah dicicil dari sekarang dan sudah selesai satu hari menjelang hari H. Satu hari menjelang ujian bukan waktu yang tepat untuk belajar, tapi lebih tepat untuk istirahat, tidur cukup, persiapan alat tulis, dan jangan coba-coba membuat contekan. Barang siapa yang membawa contekan ke ruang ujian, meskipun tidak sempat dilihat, berarti telah berniat untuk menyontek. Jika ketahuan oleh pengawas, maka akan dikeluarkan dari rung ujian, dan dianggap tidak lulus mata kuliah tsb.

Seperti yang sudah diumumkan oleh sekjur di facebook grup Ciloteh Anak TE, jadwal ujian Alpro adalah hari Selasa 20 Januari 2015 jam 10.00 WIB, sedangkan jadwal ujian Jarkom adalah hari Jumat 23 Januari 2015 jam 10.00 WIB.

Untuk mahasiswa yang mau ujian Alpro, selain dari 10 contoh soal dan penyelesaian yang dibahas di dua pekan tambahan kuliah, pelajari juga cara mengisi nilai secara langsung pada tipe data larik dan tipe terstruktur. Ada 4 soal dan durasi ujian 60 menit, jadi satu soal 15 menit.

Untuk mahasiswa yang mau ujian Jarkom, selain handout Transport Layer hingga Application Layer, pelajari juga soal-soal Quiz yang terdapat di Kurikulum Cisco. Ada 5 soal essay dan 10 soal pilihan ganda, durasi ujian 60 menit.

Semoga sukses!

Posted January 12, 2015 by abdill01 in Tips n Tricks

Refleksi Akhir Tahun 2014   Leave a comment

Kehidupan dunia ini adalah sesuatu yang berbahaya karena membuat kita lalai kepada Allah. Perhatikan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam: “Kalau begitu bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan firman Allah dalam surat al-Hadid (57) ayat 20:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Tafsir-nya, “Allah mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah terangkan akhir kesudahan dunia dan kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia. Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah. Adapun janji (pahala dan surga) dan ancaman (adzab dan neraka) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 686)

Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para sahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah sebanyak-banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.

Rasulullah pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar, sambil memegang pundak iparnya ini:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Abdullah bin Umar pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul di atas, “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”

Adapun dalam perbuatan, beliau merupakan sahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar.” (Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)

Ibnu Baththal menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar di atas, “Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke tempat akhirnya.” (Fathul Bari, 11/282)

Al-Imam An-Nawawi t berkata memberikan penjelasan terhadap hadits ini, “Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada keluarganya.” (Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud melihat Rasulullah tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para sahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi)

Umar ibnul Khaththab pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa di alasi apapun. Umar berkata:

فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab berkata kepada Nabinya:

ادْعُ اللهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللهَ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَـهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْـحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik-baik) mereka di dalam kehidupan dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat penyeberangan. Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia. Rasulullah bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Al-Imam An-Nawawi menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)

Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang bodoh, karena dunia tak kan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal.

Posted January 2, 2015 by abdill01 in Friday Sermon

Quiz Kedua   Leave a comment

Assalaamu’alaikum warahmatullah…

Jangan lupa pekan depan ada quiz yang kedua. Quiz diadakan openbook selama 20 menit sebelum kuliah, jadi datanglah tepat waktu karena tidak ada tambahan waktu untuk yang terlambat.

Untuk mata kuliah Alpro, materi quiz sampai bab 11 Fungsi. Pelajari contoh-contoh algoritma dan program yang ada di buku referensi dan handout, kemudian bawa ke ruang kuliah. Kalau itu semua kamu lakukan, dijamin sukses.

Untuk mata kuliah Jarkom, materi quiz sampai Presentation Layer kurikulum Cisco. Pelajari soal-jawab quiz dan review, dijamin sukses.

Wassalaamua’alikum.

Posted December 17, 2014 by abdill01 in Words

Sebuah Celupan Dahsyat   Leave a comment

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Salamah memberitakan kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’. Dan didatangkan pula seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun. Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.” (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar)

Posted November 25, 2014 by abdill01 in Sunnah

Midtest   Leave a comment

Assalaamu’alaikum students! Pekan ini adalah pekan midtest a.k.a ujian tengah semester. Untuk mata kuliah Algoritma dan Pemrograman materi ujiannya adalah seputar control flow, yakni tentang sequence (runtunan), selection (pemilihan) dan repetition (pengulangan. Dari 4 soal atau masalah ada 3 soal pemilihan. Maksudnya kamu boleh memilih mengerjakan 3 soal saja, bobotnya sama. Last but not least, ujiannya openbook!

Untuk mata kuliah Jaringan Komputer, ujiannya cuma 30 soal pilihan ganda dan 5 soal essay. karena kamu sudah semester 5, maka ujiannya closebook. Materinya tentang Physical, Data-link dan Network Layer. Jangan lupa latihan soal-soal quiz yang ada di kurikulum Cisco. Goodluck!

Posted November 18, 2014 by abdill01 in Words

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 444 other followers